Sempat Dikunjungi Wapres dan Kapolri, Lahan Jagung Ketahanan Pangan di Tangerang Gagal Panen

news.fin.co.id - 29/12/2025, 10:43 WIB

Sempat Dikunjungi Wapres dan Kapolri, Lahan Jagung Ketahanan Pangan di Tangerang Gagal Panen

Tanaman jagung program ketahanan pangan nasional di Desa Bantar Panjang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kini dalam kondisi kritis. (rfh)

fin.co.id -  Tanaman jagung program ketahanan pangan nasional di Desa Bantar Panjang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kini dalam kondisi kritis. Tanaman yang seharusnya tumbuh subur justru tampak kering, menguning, dan terbengkalai – jauh berbeda dari gambaran keberhasilan yang disebarkan saat seremonial penanaman beberapa waktu lalu.

Lokasi tersebut sebelumnya menjadi tuan rumah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bersama jajaran menteri dan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, dalam rangka penanaman jagung serentak kuartal IV yang diinisiasi Polri. Program yang digadang-gadang sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional kini semakin dipertanyakan kredibilitasnya.

Aktivis Tangerang Gandi Sadewa, yang melakukan pantauan langsung Sabtu (27/12/2025), menyebut program ini gagal total di lapangan. Menurutnya, kegiatan hanya berhenti pada tahap penanaman awal tanpa pengawalan dan pendampingan teknis hingga panen.

“Ini gagal total. Kalau jagungnya mati seperti ini, lalu di mana ketahanan pangannya? Yang hidup justru acaranya, bukan tanamannya,” tegas Gandi.

Advertisement

Dia menilai program lebih menonjolkan agenda simbolik dan pencitraan pejabat, sementara aspek teknis pertanian dan keberlanjutan sama sekali diabaikan. “Negara hadir lengkap, pejabat datang, kamera menyala. Tapi setelah itu lahan dibiarkan. Kalau hasilnya mati seperti ini, publik berhak menyebut program ini gagal,” tambahnya.

Meskipun anggaran tidak dibuka secara rinci, Gandi menegaskan bahwa kegiatan skala nasional dengan pelibatan banyak institusi pasti menyedot biaya besar – mulai dari pengadaan benih, pupuk, alat, hingga logistik dan biaya acara.

“Kalau uang rakyat dipakai tapi jagungnya mati, itu bukan sekadar gagal teknis. Itu pemborosan anggaran. Dan pemborosan ini bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan publik,” katanya.

Kegagalan ini juga berdampak langsung pada petani lokal dan masyarakat Tangerang yang dijadikan objek program tanpa kepastian hasil. “Petani dijanjikan ketahanan pangan, yang datang justru lahan gagal panen. Tangerang jangan dijadikan panggung proyek nasional yang hasilnya nihil,” pungkasnya.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Gandi mendesak tiga hal yakni audit menyeluruh atas program tanam jagung di Tangerang, pembukaan total anggaran dan mekanisme pelaksanaan, serta penghentian program tanam simbolik yang tidak berbasis kesiapan lahan dan pendampingan serius.

“Kalau negara serius soal pangan, ukurannya panen, bukan publikasi. Selama jagung di Tangerang gagal, klaim keberhasilan itu bohong,” tutupnya.

Rikhi Ferdian Herisetiana
Rikhi Ferdian Herisetiana
Penulis

Reporter FIN.CO.ID untuk daerah Tangerang.