Dukung China, Rusia Tegas Tolak Kemerdekaan Taiwan!

news.fin.co.id - 01/01/2026, 18:05 WIB

Dukung China, Rusia Tegas Tolak Kemerdekaan Taiwan!

Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menyebut Pemimpin Nazi Adolf Hitler merupakan keturunan Yahudi.

fin.co.id - Rusia kembali menegaskan penolakan terhadap segala bentuk kemerdekaan Taiwan dan menegaskan dukungan penuh kepada Republik Rakyat Cina dalam menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayahnya.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Timur, khususnya di sekitar Selat Taiwan, yang belakangan menjadi salah satu titik panas hubungan internasional global.

Dalam pernyataan kepada kantor berita TASS yang disiarkan pada Ahad (28/12/2025), Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa posisi Rusia terkait Taiwan sudah sangat jelas dan tidak berubah.

Advertisement

“Rusia mengakui Taiwan sebagai bagian integral dari China dan menentang segala bentuk kemerdekaan bagi pulau tersebut,” ujar Lavrov.

Ia menambahkan, sikap tersebut bukanlah pernyataan baru, melainkan kebijakan lama Moskow yang sejalan dengan prinsip One China Policy atau kebijakan satu Cina yang selama ini dianut Rusia dan sebagian besar negara di dunia.

Lavrov juga menegaskan bahwa isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan internal Cina.

Menurutnya, Beijing memiliki dasar hukum yang kuat dan sah untuk mempertahankan kedaulatan nasional serta integritas wilayahnya dari berbagai bentuk ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menanggapi potensi eskalasi konflik di Selat Taiwan, Lavrov menyatakan bahwa Rusia akan berdiri di sisi Cina dalam upaya menjaga persatuan nasionalnya.

Ia merujuk pada Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Rusia–Cina yang ditandatangani pada 2001 dan diperpanjang kembali pada 2021 untuk jangka waktu lima tahun.

Perjanjian tersebut menjadi dasar hubungan strategis kedua negara, termasuk dalam isu keamanan dan geopolitik kawasan.

“Rusia berangkat dari prinsip bahwa setiap negara berhak melindungi keutuhan wilayahnya,” tegas Lavrov.

Dukungan Moskow ini memperkuat sinyal bahwa poros Rusia–Cina semakin solid, terutama dalam menghadapi tekanan geopolitik dari negara-negara Barat dan sekutunya di kawasan Asia-Pasifik.

Advertisement

Selain menyinggung isu Taiwan, Lavrov juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan keamanan Jepang. Ia menilai Tokyo saat ini tengah melaju ke arah militerisasi yang dipercepat, sebuah langkah yang menurut Rusia berpotensi mengganggu stabilitas regional.

“Dampak merugikan dari pendekatan ini terhadap stabilitas kawasan sudah sangat jelas. Tetangga kami di Jepang sebaiknya mempertimbangkan situasi secara matang sebelum mengambil keputusan yang tergesa-gesa,” kata Lavrov.

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana - FIN.CO.ID