fin.co.id - Keputusan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membawa tudingan di media sosial ke ranah hukum dinilai bukan sekadar langkah defensif untuk menjaga nama baik, melainkan memiliki makna politik yang lebih strategis.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya SBY meredam spekulasi yang berpotensi menyeret dirinya ke dalam konflik terbuka dengan Presiden Joko Widodo. Dengan menempuh jalur hukum terhadap pihak yang menuduhnya sebagai aktor di balik isu ijazah Jokowi, SBY dinilai ingin menegaskan posisi politiknya tanpa terlibat langsung dalam polemik substansi isu tersebut.
“Langkah hukum yang diambil oleh Pak SBY tepat karena diammya selama ini juga tidak menguntungkan. Karena yang menikmati isu ijazah Jokowi berbagai kelompok politik. Jika situasi ini tidak disikapi oleh SBY, maka bakal mengunci ruang komunikasi SBY dan Jokowi dalam momentum politik ke depan,” ujar Arifki dalam keterangan, kemarin.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu menilai relasi politik antara SBY dan Jokowi sejauh ini relatif terbuka. Hal tersebut terlihat sejak Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pertama kali dipercaya masuk kabinet pada era pemerintahan Jokowi. Dalam konteks ini, Jokowi masih dipandang sebagai figur yang penting untuk dijaga dalam keseimbangan elite nasional, terlebih menjelang dinamika politik 2026 yang akan diwarnai pembahasan RUU Pemilu.
“Pilihan SBY tidak masuk ke ruang debat publik soal ijazah bisa dibaca sebagai upaya menjaga jarak dari konflik, sekaligus mempertahankan relasi politik dengan Jokowi,” kata Arifki.
Lebih lanjut, Arifki menilai langkah hukum tersebut juga berkaitan dengan upaya merawat stabilitas politik jangka panjang. Isu personal yang dibiarkan berkembang tanpa kendali berpotensi memperlebar friksi elite dan membuka ruang bagi aktor politik lain untuk mengambil keuntungan menjelang kontestasi 2029.
“Dalam politik, menjaga hubungan tidak selalu dilakukan melalui dukungan terbuka, tetapi juga dengan membatasi eskalasi konflik. Langkah SBY dapat dibaca dalam kerangka tersebut,” pungkasnya.