Kunjungan ini terjadi di tengah upaya industri pertahanan Pakistan untuk memperluas pasar ekspor, termasuk negosiasi dengan Tentara Nasional Libya dan angkatan bersenjata Sudan. Pakistan diketahui tengah berambisi memperkuat posisinya sebagai pemain regional yang diperhitungkan dalam industri pertahanan global.
Seorang sumber keamanan tambahan menyebutkan bahwa pembicaraan tidak hanya mencakup penjualan jet tempur, tetapi juga:
-
Sistem pertahanan udara
-
Program pelatihan bagi perwira TNI AU tingkat junior hingga senior
-
Pelatihan staf teknik dan pemeliharaan
“Kesepakatan dengan Indonesia sedang dalam proses,” kata Marsekal (Purn) Asim Suleiman, yang mengetahui perkembangan negosiasi tersebut. Ia menyebutkan jumlah jet JF-17 yang dibahas mendekati 40 unit.
Hubungan pertahanan Indonesia dan Pakistan dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan tren positif. Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto telah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Presiden Asif Ali Zardari.
Dalam kunjungan resmi ke Pakistan pada akhir tahun lalu, Prabowo juga mengajak KSAU TNI AU Marsekal Mohamad Tonny Harjono ke Islamabad, yang dinilai sebagai sinyal kuat penguatan kerja sama militer kedua negara.
Indonesia sendiri tengah menjalankan agenda besar modernisasi alutsista, khususnya untuk memperkuat TNI Angkatan Udara. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mengamankan sejumlah kontrak strategis, di antaranya:
-
42 jet Rafale dari Prancis senilai US$ 8,1 miliar (2022)
-
48 jet tempur KAAN dari Turki (2025)
Selain itu, Jakarta juga dikabarkan mempertimbangkan pembelian jet tempur J-10 buatan China, serta masih melakukan pembicaraan terkait potensi pembelian F-15EX buatan Amerika Serikat.
Jika rencana pembelian JF-17 Thunder benar-benar terealisasi, maka Indonesia akan memiliki variasi platform tempur udara yang lebih luas, sekaligus memperkuat kemampuan pertahanan udara nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan. (*)