Hukum dan Kriminal . 14/01/2026, 12:36 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Namun, hingga kini, tokoh-tokoh tersebut tidak pernah dilaporkan ke aparat penegak hukum.
Situasi ini, menurut Mahfud, memunculkan kesan adanya standar ganda dalam penegakan hukum. Jika kritik dianggap sebagai pelanggaran, maka semestinya hukum ditegakkan secara konsisten terhadap siapa pun yang menyuarakannya.
“Kalau memang itu dianggap masalah, kenapa tidak mereka yang dilaporkan? Orang NU sendiri, orang Muhammadiyah sendiri yang bicara lebih dulu,” tegas Mahfud.
Pernyataan ini memperkuat pandangan publik bahwa pelaporan terhadap Pandji berpotensi lebih bernuansa politis atau emosional ketimbang murni penegakan hukum.
Gelombang pembelaan terhadap Pandji Pragiwaksono juga datang dari Gerakan Nurani Bangsa (GNB). Salah satu tokohnya, Alissa Wahid, yang juga putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), secara tegas menolak anggapan bahwa kritik lewat humor adalah bentuk permusuhan terhadap negara.
Dalam konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (13/1/2026), Alissa menegaskan bahwa rakyat kritis justru merupakan modal utama kemajuan bangsa.
“Rakyat bukanlah musuh negara. Rakyat yang kritis itu modal untuk kemajuan negara. Jadi kalau rakyatnya tidak boleh mengkritik, itu berarti Indonesia sebagai negara pasti akan segera mengalami kemunduran,” ujar Alissa.
Alissa juga menyoroti peran humor dalam demokrasi. Menurutnya, humor bukan hanya alat hiburan, melainkan media refleksi sosial dan politik yang sangat efektif.
Dalam banyak situasi, kritik yang dibungkus humor justru lebih mudah diterima dan dipahami oleh publik luas. Humor mampu menjembatani jarak antara rakyat dan penguasa, serta membuka ruang dialog yang lebih cair namun tetap bermakna.
“Kami meyakini betul bahwa humor itu dibutuhkan bukan hanya untuk sekadar guyon-guyon, tetapi memang kritik dan refleksi atas kehidupan yang jauh lebih rumit ini akan lebih mudah dengan humor,” jelasnya.
Lebih jauh, Alissa mengingatkan bahwa pembatasan terhadap humor dan kritik ringan bisa berdampak serius bagi masa depan demokrasi.
Jika ekspresi dalam bentuk humor saja mulai dipersoalkan, maka kritik yang lebih serius berpotensi menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media