Nilai TKA Matematika Bobrok! Alarm Keras Pendidikan Indonesia Menjelang 2045

news.fin.co.id - 15/01/2026, 19:26 WIB

Nilai TKA Matematika Bobrok! Alarm Keras Pendidikan Indonesia Menjelang 2045

Cara Mengerjakan PR Matematika, Image: Pixelrockerz / Pixabay

fin.co.id - Rata-rata nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) Matematika nasional yang hanya mencapai 36,10 bukan sekadar angka statistik yang berlalu begitu saja.

Angka ini seharusnya dibaca sebagai peringatan serius tentang kondisi pendidikan Indonesia, khususnya dalam membangun kemampuan berpikir logis dan sistematis pada peserta didik.

Selama ini, rendahnya capaian matematika sering kali disederhanakan sebagai kegagalan siswa memahami materi atau kesulitan menjawab soal.

Advertisement

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, nilai tersebut justru mencerminkan persoalan struktural dan pendekatan pembelajaran yang belum menyentuh akar masalah.

Di banyak ruang kelas, matematika masih diposisikan sebagai mata pelajaran teknis yang berorientasi pada jawaban akhir: benar atau salah.

Siswa dinilai berdasarkan kecepatan menghafal rumus dan ketepatan menyelesaikan soal dengan pola tertentu.

Padahal, esensi matematika sesungguhnya terletak pada proses bernalar. Bagaimana siswa:

  • memahami persoalan,

  • menganalisis informasi,

  • menyusun strategi penyelesaian,

  • hingga menarik kesimpulan secara logis dan sistematis.

Ketika nilai TKA Matematika rendah, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan semata “mengapa siswa gagal?”, melainkan apakah sistem pendidikan sudah benar-benar melatih cara berpikir tersebut?

Berbagai penelitian telah menegaskan kuatnya hubungan antara kemampuan matematika dan penalaran logis. Salah satunya, studi dalam Jurnal Pendidikan Matematika (2021) menunjukkan adanya korelasi tinggi (r = 0,72) antara kemampuan penalaran logis dan kemampuan menyelesaikan soal matematika.

Artinya, rendahnya nilai TKA Matematika tidak hanya berdampak pada capaian akademik semata, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas nalar generasi muda secara umum.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat berimplikasi pada kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan rasional, hingga pemecahan masalah kompleks di dunia nyata.

Advertisement

Indonesia tidak kekurangan kebijakan pendidikan. Kurikulum silih berganti, istilah pembelajaran diperbarui, dan berbagai program diluncurkan. Namun, realitas di kelas sering kali menunjukkan cerita yang berbeda.

Pembelajaran masih didominasi oleh:

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana - FIN.CO.ID