Meski visi Pahlavi terdengar sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, Donald Trump belum sepenuhnya merangkulnya.
Dalam wawancara dengan Reuters di Ruang Oval, Trump secara terbuka mempertanyakan legitimasi politik Pahlavi di mata rakyat Iran.
“Dia tampak sangat baik, tetapi saya tidak tahu bagaimana penerimaannya di negaranya sendiri,” kata Trump.
Ia menambahkan, “Saya tidak tahu apakah negaranya akan menerima kepemimpinannya dan tentu saja, jika mereka menerima, itu tidak masalah bagi saya.”
Pernyataan ini memperlihatkan sikap hati-hati Trump, yang tampaknya tidak ingin mendukung figur oposisi tanpa jaminan dukungan rakyat yang nyata.
Di berbagai negara, termasuk dalam aksi solidaritas diaspora Iran, terlihat demonstran membawa foto Reza Pahlavi. Namun, seberapa besar pengaruh simbol tersebut di dalam negeri Iran masih menjadi tanda tanya.
Parsi menilai Pahlavi memang memiliki sejumlah pendukung, tetapi jumlahnya terbatas dan tidak cukup untuk membangun gerakan nasional yang solid.
Pandangan serupa disampaikan Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel yang kini menjadi peneliti senior di Institute for National Security Studies.
Menurut Citrinowicz, seruan nama Pahlavi di jalanan Iran lebih mencerminkan kekosongan figur alternatif, bukan dukungan tulus.
“Orang-orang meneriakkan ‘Pahlavi’ di jalanan Iran bukan karena mereka benar-benar menginginkannya, tetapi karena tidak ada nama lain yang bisa diteriakkan,” ujarnya.
Reza Pahlavi adalah putra dari Shah Mohammed Reza Pahlavi, penguasa Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, peristiwa yang melahirkan Republik Islam Iran saat ini.
Sejak itu, Reza Pahlavi hidup di pengasingan di Amerika Serikat. Selama lebih dari empat dekade, ia dinilai gagal membangun gerakan oposisi yang kuat dan terorganisir di dalam Iran.
“Mereka tidak ingin mengganti satu kediktatoran dengan kediktatoran lain dan dia bukan figur pemersatu,” kata Citrinowicz.
“Dia telah mencoba membangun dirinya sebagai penerus, tetapi itu tidak ada,” imbuhnya.
Di dalam Iran, media pemerintah selama bertahun-tahun menggambarkan Pahlavi sebagai simbol korupsi dan menyalahkan apa yang mereka sebut sebagai “elemen teroris monarkis” atas demonstrasi terbaru.