Student News Network, media yang diyakini dekat dengan milisi Basij, bahkan menayangkan wawancara warga yang menolak Pahlavi secara terbuka.
“Dia membuat kesalahan besar. Katakan padanya untuk pergi,” ujar seorang warga. Yang lain terdengar berteriak, “Matilah sang shah!”
Narasi ini menunjukkan bahwa citra Pahlavi di dalam negeri masih sangat terpolarisasi dan sarat trauma sejarah.
Reza Pahlavi diketahui telah lama menjalin hubungan dengan Israel. Ia bahkan mengunjungi negara tersebut pada 2023 dan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Citrinowicz menilai langkah ini semakin memperjelas bahwa Pahlavi menargetkan audiens internasional, bukan domestik. Hal itu tercermin dari video visinya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, bukan Persia.
“Video itu ditujukan untuk Trump, bukan untuk rakyat Iran,” ujar Citrinowicz.
Ia menambahkan bahwa satu-satunya peluang Pahlavi untuk berkuasa adalah dukungan penuh Washington, termasuk kemungkinan intervensi militer AS—meski Trump belakangan melunakkan retorikanya terkait opsi tersebut.
Gelombang demonstrasi di Iran pecah sejak 28 Desember, dipicu anjloknya nilai mata uang rial serta tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional terkait program nuklir Iran.
Aparat keamanan Iran dituduh melakukan penindasan brutal terhadap para pengunjuk rasa.
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency, sedikitnya 2.637 orang tewas sejak protes dimulai—angka yang melampaui korban dalam gelombang protes mana pun di Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Situasi inilah yang membuka kembali diskusi tentang masa depan Iran dan siapa yang layak memimpinnya jika rezim saat ini runtuh. (*)