fin.co.id - Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Tangerang sepanjang musim penghujan Desember 2025 hingga Januari 2026 mulai memukul sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang mencatat ratusan hektare lahan persawahan kini terendam banjir, memicu kekhawatiran akan krisis produksi gabah di awal tahun.
Hingga data terbaru yang dirilis pada Kamis (22/1/2026), luas lahan yang terdampak banjir telah mencapai 804 hektare. Dari total luasan tersebut, kondisi yang paling mengkhawatirkan menimpa sekitar 29,5 hektare lahan yang kini berstatus terancam puso atau gagal panen total.
Kepala Bidang Produksi Pangan dan Hortikultura DPKP Kabupaten Tangerang, Bambang, mengungkapkan bahwa rendaman air meluas di 39 desa yang tersebar di 15 kecamatan.
"Data per 19 Januari 2026 menunjukkan 804 hektare sawah terdampak. Wilayah yang paling parah sejauh ini adalah Desa Carenang di Kecamatan Cisoka, dengan luas lahan terdampak mencapai 107 hektare," jelas Bambang, Kamis (22/1/2026).
Selain Cisoka, wilayah lain yang masuk dalam zona merah dampak banjir meliputi Tigaraksa, Panongan, Jayanti, Balaraja, Sindang Jaya, Rajeg, Jambe, Sukadiri, Pakuhaji, Kronjo, Kresek, Kemiri, Mauk, hingga Sukamulya. Rata-rata tanaman yang terancam merupakan varietas unggulan seperti Inpari, Ciherang, dan Mekongga.
Kondisi ini memicu kecemasan mendalam bagi para petani. Marna, salah satu pemilik lahan di Kampung Jalupang, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa, mengaku hanya bisa pasrah melihat sawahnya terendam. Ia mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan.
"Kami sangat berharap ada langkah konkret dari pemerintah. Jangan sampai ancaman puso ini benar-benar terjadi, karena modal yang kami tanam sangat besar. Harus ada solusi pencegahan atau bantuan agar kami tidak merugi total," keluh Marna.
Hingga saat ini, pihak DPKP terus melakukan pemantauan di lapangan untuk menghitung potensi kerugian dan menyiapkan langkah mitigasi guna menyelamatkan sisa lahan yang masih mungkin dipertahankan dari risiko gagal panen.