Perkembangan AI Ubah Kondisi Bisnis di Indonesia

news.fin.co.id - 28/01/2026, 11:56 WIB

Perkembangan AI Ubah Kondisi Bisnis di Indonesia

Ilustrasi artifial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

fin.co.id - Di era perkembangan teknologi digital yang menjadi semakin masif, 2026 dinilai akan menjadi titik krusial bagi arah perkembangan industri di Indonesia, terutama dengan hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI).

Bukan tanpa alasan. Pasalnya, dengan kehadiran teknologi AI, situasi tersebut pun juga memaksa para pelaku industri untuk tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga menata ulang strategi jangka menengah dan panjang.

Hal serupa pun juga turut diungkapkan oleh Group CEO of MCorp, Taufik. 

Sebagai perusahaan konsultansi pemasaran terdepan di Indonesia, MCorp sendiri juga turut menyoroti dampak perkembangan AI kepada sistem bisnis di Indonesia.

Advertisement

"Tantangan industri ke depan tidak lagi berdiri sendiri per-sektor karena perubahan terjadi lintas industri, semakin cepat, dan menuntut pelaku usaha memahami arah besar industri agar strategi yang dijalankan tetap relevan," ucap Taufik di Gedung EightyEight, Jakarta Selatan, pada Rabu (28/01).

Lebih lanjut, Taufik juga turut menambahkan bahwa tahun 2026 akan menjadi momen krusial bagi banyak industri dalam membaca arah perubahan dan memperkuat ketahanan bisnis.

"Tantangan kini tidak lagi bersifat sektoral, melainkan saling terhubung lintas industri dan model bisnis, sehingga perusahaan dituntut memiliki pemahaman strategis terhadap arah besar industri agar setiap keputusan tetap relevan dan berkelanjutan," tutur Taufik.

Di sisi lain, Taufik turut mengungkapkan bahwa para pelaku industri sendiri juga telah sepakat bahwa arah industri 2026 akan ditandai oleh tekanan efisiensi, perubahan perilaku pasar, serta meningkatnya peran faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan perkembangan teknologi, khususnya AI. 

Menurutnya, transformasi tidak lagi dipahami semata sebagai digitalisasi, melainkan sebagai penataan ulang strategi, operasional, dan tata kelola bisnis.

Hal serupa juga turut diungkapkan oleh Herbudhi S. Tomo selaku Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO). 

Menurutnya, tantangan perbankan syariah pada tahun 2026 ini tidak terletak pada keberlanjutan industri, melainkan pada bagaimana memperkuat fundamental melalui tata kelola yang solid, inovasi produk yang relevan, dan pemanfaatan teknologi digital secara tepat.

"Pada saat yang sama, karakter dan keunikan model bisnis syariah harus tetap dijaga agar industri ini tetap adaptif terhadap perubahan regulasi dan kondisi ekonomi," tutur Herbudhi. (Bianca Chairunisa)

Khanif Lutfi
Khanif Lutfi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID