fin.co.id – Fenomena pergerakan tanah yang membentuk lubang raksasa di lintasan Jalan Buter – Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, kini mulai sangat mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, luas area tanah yang amblas melonjak drastis hingga melampaui 30.000 meter persegi atau setara dengan 3 hektare.
Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Aceh melaporkan bahwa perluasan area amblas ini terjadi secara masif dan mulai mengancam akses publik serta pemukiman warga. Pada tahun 2021, luas lubang tercatat hanya sekitar 7.000 meter persegi, namun angka tersebut terus merayap naik hingga mencapai luas saat ini.
Kecepatan Pergerakan Tanah yang Masif
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, mengungkapkan betapa cepatnya fenomena ini berkembang. "Tahun 2022 kami pantau sudah 28.000, sekarang sudah di atas 30.000 meter persegi," ujar Ikhlas pada Sabtu 31 Januari 2026.
Kondisi terkini menunjukkan tingkat bahaya yang jauh lebih tinggi. Longsoran tanah telah menghancurkan badan jalan utama dan terus bergerak menuju sisi tenggara. Pergerakan ini mengarah langsung ke area infrastruktur vital dan pemukiman, sehingga meningkatkan risiko jatuhnya korban maupun kerugian materiil yang lebih besar.
Pemicu Alami dan Rapuhnya Formasi Geureudong
Secara ilmiah, wilayah ini memiliki karakteristik tanah yang sangat rapuh karena berada di atas Formasi Geureudong. Material ini merupakan sisa aktivitas vulkanik dari Gunungapi Geureudong jutaan tahun silam yang bersifat lepas dan mudah menyerap air.
Ketika curah hujan tinggi, tanah menjadi jenuh air dan kehilangan stabilitasnya secara total. Siklon yang terjadi pada akhir November 2025 lalu disebut menjadi pemicu utama yang mempercepat pergerakan lereng secara perlahan namun pasti. Selain hujan, getaran gempa maupun aliran air bawah tanah juga menjadi faktor yang memperparah kondisi "bubur tanah" di wilayah tersebut.
Trauma Gempa Gayo 2013 Kembali Menghantui
Fenomena ini memicu kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap tragedi Gempa Gayo 2013. Saat itu, Desa Bah dan Serempah hilang akibat karakteristik tanah serupa yang kehilangan daya ikat. Ikhlas menegaskan bahwa tanpa adanya penguatan struktur tebing dan perbaikan jalur drainase yang serius, ancaman longsor susulan akan terus menghantui warga Ketol dan Takengon.
Pemerintah saat ini tengah berupaya mensosialisasikan peta zona kerentanan gerakan tanah kepada masyarakat. Selain langkah teknis, penguatan non-struktural seperti penanaman vegetasi dengan akar kuat diharapkan mampu menjadi penyangga alami guna mencegah tanah terus amblas dan meluas ke pemukiman penduduk.