Kemiskinan RI Turun ke 8,25 Persen, Tapi Jurang Si Kaya dan Miskin di Kota Makin Menganga!

news.fin.co.id - 05/02/2026, 12:34 WIB

Kemiskinan RI Turun ke 8,25 Persen, Tapi Jurang Si Kaya dan Miskin di Kota Makin Menganga!

catat kemiskinan Indonesia turun jadi 8,25% pada September 2025. Namun, Gini Ratio tunjukkan ketimpangan di kota masih tinggi.Foto:Ilust/Unsplash@ Olesya Tsinskaya

fin.co.id - Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kabar baik sekaligus peringatan bagi perekonomian Indonesia. Data terbaru menunjukkan jumlah penduduk miskin di tanah air menyusut signifikan hingga mencapai angka 23,36 juta orang pada September 2025. Namun, di balik penurunan tersebut, tingkat ketimpangan atau jurang antara kelompok kaya dan miskin, terutama di wilayah perkotaan, terpantau masih sangat lebar.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa persentase kemiskinan nasional kini berada di angka 8,25 persen. Angka ini turun 0,22 persen poin jika membandingkannya dengan periode Maret 2025. Sejak tahun 2021, grafik kemiskinan Indonesia memang terus melandai dan berhasil keluar dari zona dua digit yang sebelumnya sempat menyentuh 10,14 persen.

"Tingkat kemiskinan mengalami penurunan, baik di perkotaan maupun di perdesaan," ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 5 Februari 2026.

Meskipun jumlah orang miskin berkurang sebanyak 490 ribu orang dalam enam bulan terakhir, potret ketimpangan ekonomi (Gini Ratio) tetap menjadi catatan merah. BPS mencatat Gini Ratio Indonesia berada di angka 0,363.

Advertisement

Meski angka ini turun tipis dari periode sebelumnya, ketimpangan di wilayah perkotaan tetap jauh lebih tinggi mencapai 0,383 dibandingkan perdesaan yang hanya 0,295.

Angka Gini Ratio yang mendekati 1 menunjukkan bahwa distribusi pendapatan masih menumpuk di kelompok tertentu. Tingginya angka ketimpangan di kota mencerminkan bahwa meskipun banyak orang berhasil lepas dari jerat kemiskinan, kenaikan pendapatan kelompok ekonomi atas melesat jauh lebih cepat. Hal ini menciptakan pemandangan kontras di kota-kota besar, di mana gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan pemukiman padat.

Pemerintah kini menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya sekadar menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memastikan distribusi kesejahteraan yang lebih merata. Tanpa kebijakan yang menyasar pemerataan pendapatan, penurunan angka kemiskinan dikhawatirkan hanya menjadi angka statistik yang tidak menghapus kecemburuan sosial di masyarakat urban.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID