Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan, Bulog telah menyiapkan beras premium sesuai permintaan pengelola dapur jemaah haji di Arab Saudi.
“Ekspor perdana direncanakan pada minggu ketiga Februari sekitar 2.280 ton. Namun kami siapkan hingga 3.000 ton untuk mengantisipasi kebutuhan tambahan,” ujarnya.
Beras yang akan diekspor memiliki standar mutu internasional, dengan spesifikasi beras pecah maksimal 5 persen, kadar air di bawah 14 persen, serta berasal dari gabah panen baru agar kualitas dan kesegaran tetap terjaga.
Ahmad menegaskan, volume ekspor tersebut sangat kecil dibandingkan stok beras Bulog yang mencapai 3,2 juta ton, sehingga tidak berdampak pada ketersediaan beras nasional.
Bulog juga menyiapkan cadangan tambahan jika dibutuhkan ekspor lanjutan.
Pengolahan beras dilakukan menggunakan fasilitas penggilingan modern berbasis teknologi terkomputerisasi, untuk memastikan konsistensi mutu sesuai standar yang disyaratkan mitra Arab Saudi.
Dari sisi tata kelola, pemerintah memastikan seluruh proses ekspor, telah memenuhi ketentuan keamanan pangan, kepabeanan, dan karantina melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga teknis.
Respons dari pemerintah Arab Saudi terhadap rencana penggunaan beras Indonesia dinilai sangat positif, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia.