fin.co.id - Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Ahmad Najib Burhani, mengungkapkan alasan mengapa Sekolah Garuda tidak dibangun di Pulau Jawa.
Kebijakan ini bukan tanpa pertimbangan. Pemerintah justru ingin menghadirkan sekolah unggulan di daerah-daerah yang selama ini memiliki potensi besar, tetapi minim fasilitas pendidikan berkualitas.
Hal tersebut disampaikan Najib saat ditemui di kantor Kemendikti Saintek, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Ia menegaskan bahwa pembangunan SMA Unggul Garuda difokuskan pada wilayah luar Jawa sebagai bagian dari strategi pemerataan pendidikan nasional.
Saat ini, sudah ada empat lokasi SMA Unggul Garuda Baru 2026 yang tengah dibangun pemerintah dan ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026.
"Sekolah Garuda itu tidak dibangun di Jawa, tapi di daerah-daerah yang punya potensi, tetapi minim fasilitas pendidikan yang baik," ujarnya.
Fokus ke Daerah yang Minim Sekolah Berkualitas
Menurut Najib, Pulau Jawa selama ini sudah memiliki banyak sekolah unggulan dengan fasilitas lengkap dan akses pendidikan yang relatif merata. Karena itu, pemerintah memilih untuk menjajaki wilayah-wilayah di luar Jawa yang dinilai membutuhkan intervensi lebih serius.
Salah satu contoh yang disebut adalah Kota Soe di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah tersebut, menurutnya, cukup sulit menemukan sekolah dengan kualitas yang benar-benar unggul.
Selain itu, pemerintah juga melihat kondisi di Belitung Timur, daerah yang dikenal luas lewat kisah Laskar Pelangi. Meski pernah memiliki sekolah unggulan seperti SMA Timah, perkembangan pendidikan di sana dinilai belum optimal.
Fenomena lain yang menjadi perhatian adalah kecenderungan masyarakat di daerah perbatasan menyekolahkan anak ke luar negeri, khususnya negara tetangga.
"Kemudian kita pergi ke Kaltara, orang-orang pada menyekolahkannya itu ke negara sebelah, ke Malaysia," kata Najib.
Hal ini terutama terjadi pada anak-anak dengan kemampuan akademik bagus, yang dinilai lebih memiliki peluang mendapatkan pendidikan berkualitas di luar negeri dibanding di daerah asalnya.
Potensi Daerah Tak Kalah dengan Anak Jawa
Najib menegaskan, banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi sumber daya manusia luar biasa. Namun, keterbatasan fasilitas pendidikan membuat potensi tersebut belum tergali maksimal.