Fin.co.id - Pintu gerbang energi dunia, Selat Hormuz, kini berada di ambang penutupan total. Ancaman bukan lagi sekadar wacana, melainkan peringatan nyata setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mulai menyiarkan transmisi peringatan keras kepada setiap kapal yang melintas.
Situasi di perairan paling krusial di muka bumi ini berubah menjadi zona merah yang mematikan.
Saat ini, kapal-kapal tanker raksasa yang membawa "darah" ekonomi dunia memilih untuk mematikan mesin dan berdiam diri, atau bahkan berbalik arah.
Ketakutan akan penyitaan atau serangan rudal membuat para pemilik armada mengambil langkah ekstrem: menangguhkan pengiriman minyak dan gas.
Seorang eksekutif senior perdagangan energi internasional, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengungkapkan situasi industri saat ini: “Kapal-kapal kami akan tetap di tempatnya selama beberapa hari. Risiko ini terlalu besar untuk ditanggung.”
Jika Selat Hormuz benar-benar terkunci, dunia akan menyaksikan sebuah bencana ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
20 Juta Barel per Hari Adalah Angka yang Menakutkan
Selat Hormuz bukanlah sekadar perairan biasa; ini adalah "titik cekik" (chokepoint) paling strategis dalam sejarah manusia.
Dengan lebar jalur pelayaran efektif yang hanya sekitar 3 km di setiap arah, perairan ini sangat rentan terhadap gangguan sekecil apa pun.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), angka taruhannya sangat besar:
20 Juta Barel Minyak per Hari
Melewati selat ini setiap harinya pada tahun 2024.
USD 500 Miliar
Nilai perdagangan energi global yang bergantung pada jalur ini setiap tahunnya.