Langkah Berani Donald Trump, Siapkan Militer AS Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz yang Ditutup Iran

news.fin.co.id - 04/03/2026, 06:33 WIB

Langkah Berani Donald Trump, Siapkan Militer AS Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz yang Ditutup Iran

Kapal Tanker ilustrasi

fin.co.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan langkah darurat menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Pemerintah AS akan menawarkan asuransi bagi kapal-kapal yang melintasi Teluk, sekaligus membuka opsi pengawalan militer jika situasi memburuk.

Penutupan jalur vital tersebut terjadi setelah Iran mendapat serangan dari Israel dan Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026. Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melintasi Selat Hormuz, sehingga gangguan di wilayah ini membuat harga minyak melonjak hingga 15 persen. Diperkirakan sekitar 700 kapal kini mengantre di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya di media sosial pada Selasa, Trump mengatakan pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk menjamin keamanan perdagangan maritim.

“Mulai SEGERA, saya telah memerintahkan United States Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan jaminan untuk Keamanan Keuangan SEMUA Perdagangan Maritim, terutama Energi, yang melewati Teluk,” tulisnya.

Advertisement

United States Development Finance Corporation (DFC) merupakan lembaga pembiayaan pembangunan milik pemerintah AS yang bertugas memajukan kebijakan luar negeri serta memperkuat keamanan nasional melalui mobilisasi modal swasta di berbagai negara.

Trump menegaskan bahwa skema asuransi dengan harga diskon akan tersedia untuk seluruh jalur pelayaran. Ia juga membuka kemungkinan keterlibatan militer.

“Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, sesegera mungkin,” tulisnya.

“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN BEBAS ENERGI ke DUNIA.”

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada distribusi minyak, tetapi juga pada biaya asuransi dan operasional pelayaran. Sejumlah perusahaan asuransi dilaporkan mulai mengurangi cakupan perlindungan di tengah meningkatnya risiko akibat serangan Iran dan situasi keamanan di Teluk.

Kondisi ini turut memicu kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri AS. Meski Amerika Serikat relatif swasembada dalam produksi minyak, gejolak harga global tetap berdampak pada konsumen. Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin naik lebih dari 11 sen dalam semalam menjadi 3,11 dolar AS per galon (3,8 liter) pada Selasa.

Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi dan menambah beban masyarakat Amerika di SPBU. Situasi ini juga dinilai sensitif secara politik.

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menegaskan bahwa serangan terhadap Iran memang tidak terhindarkan meski membawa konsekuensi besar, termasuk tekanan pada pasar energi.

"Kita memiliki harga minyak yang sedikit tinggi untuk sementara waktu, tetapi begitu ini berakhir, harga-harga itu akan turun, saya yakin, bahkan lebih rendah dari sebelumnya," katanya kepada wartawan.

Advertisement

Namun, sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa serangan terhadap Iran tidak populer di kalangan publik AS. Meningkatnya biaya ekonomi akibat konflik dinilai dapat semakin menggerus dukungan terhadap perang, terutama menjelang pemilihan paruh waktu AS dalam beberapa bulan ke depan.

Dengan antrean ratusan kapal dan ketidakpastian keamanan di Teluk, langkah asuransi dan potensi pengawalan militer dari AS menjadi faktor kunci yang akan menentukan stabilitas pasokan energi global dalam waktu dekat.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca