Internasional . 11/03/2026, 09:26 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Drama kemanusiaan menyelimuti kepulangan tim nasional sepak bola wanita Iran dari Australia. Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah memberikan suaka kepada dua anggota tambahan dari delegasi tersebut tepat sebelum mereka meninggalkan negara itu pada Selasa malam.
Penambahan ini menggenapkan jumlah total menjadi tujuh orang—terdiri dari pemain dan staf tim—yang kini memegang visa kemanusiaan Australia. Langkah ini diambil setelah lima rekan mereka sebelumnya lebih dulu mengajukan permohonan perlindungan. Proses pemberian suaka terakhir ini berlangsung sangat dramatis; para individu tersebut memisahkan diri dari rombongan sesaat sebelum bus berangkat menuju bandara Sydney.
Situasi di luar hotel dan bandara sempat memanas akibat aksi protes dari komunitas warga Iran di Australia. Para demonstran mendesak pemerintah Australia untuk mencegah kepulangan para pemain, mengkhawatirkan keselamatan mereka di Iran yang kini tengah berada dalam kondisi peperangan sejak akhir Februari lalu.
Pemerintah Australia memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki kesempatan untuk memilih masa depan mereka tanpa tekanan. Saat melewati pemeriksaan keamanan perbatasan, petugas mengambil langkah tidak biasa dengan memisahkan para pemain satu per satu untuk berbicara dengan pejabat Australia dan penerjemah tanpa kehadiran pengawas dari delegasi Iran.
Menteri Tony Burke menyatakan bahwa beberapa pemain sempat menelepon keluarga mereka di Iran untuk mendiskusikan tawaran suaka tersebut. Meski tawaran perlindungan terbuka lebar, sebagian besar anggota tim akhirnya memilih untuk tetap terbang kembali ke Teheran.
"Kami tidak ingin memaksa siapa pun. Tujuan Australia adalah memastikan setiap individu memiliki martabat untuk membuat pilihan sendiri atas hidup mereka," tegas Burke. Ia juga menambahkan bahwa suaka ini tidak diberikan kepada anggota delegasi yang teridentifikasi memiliki hubungan dekat dengan garda paramiliter Iran.
Nasib timnas wanita Iran ini memicu perhatian dunia, termasuk komentar dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Iran merespons keras situasi ini dengan menyebut langkah Australia dan komentar Trump sebagai campur tangan politik yang nyata dalam dunia sepak bola.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menegaskan bahwa pemerintah Iran menjamin keamanan para pemainnya dan meminta pihak asing untuk tidak mencampuri "urusan keluarga" bangsa Iran. Federasi Sepak Bola Iran bahkan kabarnya telah meminta badan sepak bola internasional untuk meninjau intervensi politik ini yang dianggap bisa mengganggu stabilitas persiapan Piala Dunia 2026.
Keberanian para pemain ini pertama kali mencuri perhatian dunia saat mereka memilih untuk tetap diam dan tidak menyanyikan lagu kebangsaan pada laga perdana mereka di Australia. Meski setelahnya mereka kembali menyanyi, aksi diam tersebut dianggap sebagai pesan kuat yang bergema hingga ke panggung diplomasi internasional. Kini, tujuh orang di antaranya memulai hidup baru di Australia dengan status penduduk tetap (permanent residency) yang menanti di depan mata.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media