Menurut data Pentagon, sekitar 140 personel militer AS mengalami luka-luka sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.
Rinciannya:
-
108 tentara mengalami luka ringan dan telah kembali bertugas
-
8 tentara mengalami luka berat
-
7 personel militer AS dilaporkan tewas
Di pihak Iran, dampak konflik terhadap warga sipil juga sangat besar.
Data organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society menyebut sedikitnya 1.230 orang tewas sejak perang dimulai.
Di ibu kota Teheran, sejumlah warga melaporkan suara ledakan keras akibat serangan udara yang terjadi hampir setiap hari.
Beberapa warga menggambarkan kondisi penuh ketegangan dan ketidakpastian.
“Suaranya sangat keras sehingga terdengar di seluruh kota,” kata seorang warga Teheran kepada media internasional.
Warga lain menyebut masyarakat kini hidup dalam kecemasan.
“Kami merasa kewalahan, cemas, dan kelelahan. Rasanya masa depan tidak pasti,” ujarnya.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa perang dapat meluas ke wilayah lain di Timur Tengah.
Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu wilayah paling sensitif secara geopolitik, terutama karena menjadi pusat produksi minyak dunia.
Jika konflik terus meningkat dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan, tetapi juga oleh ekonomi global.
Pasar energi, perdagangan internasional, hingga stabilitas geopolitik dunia berpotensi terkena imbas dari konflik tersebut. (*)