fin.co.id - Harga bahan bakar di Jepang kembali mengalami kenaikan di tengah meningkatnya harga minyak mentah global yang dipicu konflik di Iran. Data pemerintah menunjukkan rata-rata harga bensin kini mencapai 161,80 yen atau sekitar Rp17.230 per liter.
Kenaikan tersebut tercatat bertambah sekitar 3,30 yen dibandingkan harga pada 2 Maret. Tren peningkatan ini diperkirakan belum berhenti dan bahkan berpotensi menembus angka 180 yen per liter pada pekan depan.
Data yang dirilis Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang pada Rabu (11/3) mengungkapkan bahwa kenaikan harga bensin sudah berlangsung selama empat minggu berturut-turut. Lonjakan harga minyak mentah semakin terasa setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Sementara itu, Pusat Informasi Minyak Jepang yang menghimpun data harga energi memperkirakan harga bensin dapat melonjak lagi sekitar 20 yen pada pekan depan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga energi ini menjadi tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang saat ini tengah berupaya menekan laju inflasi.
Sebelumnya, harga bensin di Jepang sempat mengalami penurunan setelah berakhirnya pajak bensin sementara pada Desember. Dalam beberapa pekan setelah itu, harga bahan bakar bahkan berada di titik terendah dalam empat setengah tahun terakhir.
Pada pertengahan Januari, harga bensin tercatat menyentuh level 154,70 yen per liter. Kondisi tersebut turut berkontribusi pada perlambatan inflasi nasional hingga 2,0 persen pada bulan yang sama, angka terendah dalam dua tahun terakhir.
Selain bensin, pemerintah juga mencatat kenaikan harga pada jenis bahan bakar lain. Menurut kementerian, harga solar dan minyak tanah pada Senin juga mengalami peningkatan di berbagai wilayah Jepang.
Harga BBM di Indonesia
Pemerintah Indonesia memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri 1446 Hijriah. Kepastian ini diberikan agar masyarakat dapat menjalani bulan Ramadhan dan menyambut Lebaran dengan lebih tenang.
“Sebagaimana juga sudah disampaikan oleh Menteri ESDM atas arahan Presiden, bahwa harga BBM subsidi dipastikan tidak akan naik. Dengan demikian masyarakat bisa menjalankan Ramadhan dengan tenang dan menyambut Lebaran tanpa kekhawatiran," kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia di Jakarta, Selasa 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut tetap diambil meskipun harga minyak dunia saat ini mengalami kenaikan yang cukup tajam. Kenaikan ini bahkan sudah melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam APBN, ICP dipatok sekitar 70 dolar AS per barel. Namun pada Senin, mengutip laporan Kyodo, harga minyak mentah berjangka sempat menembus lebih dari 111 dolar AS per barel. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022 dan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang masih berlangsung.
Selain memastikan harga BBM subsidi tidak naik, pemerintah juga menyampaikan bahwa kondisi stok BBM nasional masih dalam keadaan aman.
"Tentu pemerintah akan terus melakukan pemantauan. Yang jelas, fokus utama saat ini adalah memastikan ketahanan energi nasional tetap aman sehingga masyarakat bisa menjalankan Ramadhan dan Lebaran dengan tenang," ujarnya.