HEBOH! Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS! Menkeu Purbaya Bingung, Ini Biang Kerok Sebenarnya
Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah melemah signifikan hingga sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada Senin 16 Maret 2026 pukul 14.39 WIB.
Menurutnya, jika pemerintah terlalu banyak berkomentar soal nilai tukar, hal itu bisa menimbulkan persepsi negatif di pasar, seolah-olah pemerintah melakukan intervensi terhadap kebijakan moneter.
“Kalau saya yang berbicara, nanti bisa dianggap sebagai intervensi terhadap kebijakan bank sentral,” ujarnya.
Sikap ini dinilai sebagai upaya menjaga independensi bank sentral di mata investor global.
Baca Juga
Faktor Global Jadi Biang Kerok?
Di sisi lain, pengamat pasar uang Lukman Leong menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kondisi geopolitik global.
Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar keuangan global, mendorong investor untuk mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman (safe haven) seperti dolar AS.
Baca Juga
Harga Minyak Naik, Rupiah Tertekan
Selain konflik geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi rupiah.
Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia akan menghadapi tekanan tambahan pada neraca transaksi berjalan ketika harga minyak naik.
Kondisi ini berpotensi:
-
Meningkatkan biaya impor energi
-
Memperlebar defisit transaksi berjalan
-
Menekan nilai tukar rupiah
Hal inilah yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih rentan terhadap gejolak global.