fin.co.id - Penutupan Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026 menjadi pemicu utama guncangan besar di pasar energi dunia. Jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global itu kini terganggu, membuat distribusi energi internasional tersendat.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga menembus USD 110 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi global yang meluas.
Situasi ini tak lepas dari memanasnya konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel, yang membuat kawasan Teluk menjadi tidak stabil.
Sejumlah negara di Asia langsung bergerak cepat untuk mengantisipasi dampak krisis energi. Mulai dari pembatasan konsumsi BBM, kenaikan tarif listrik, hingga kebijakan kerja dari rumah (WFH) mulai diberlakukan.
Filipina Tetapkan Status Darurat Energi
Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Presiden Ferdinand Marcos Jr. resmi menetapkan status darurat energi nasional.
Langkah-langkah yang diambil cukup drastis:
-
Penghentian operasional pesawat tertentu
-
Peralihan pembangkit listrik dari gas ke batu bara
-
Rencana impor minyak dari Rusia
Filipina juga meningkatkan impor batu bara dari Indonesia untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil.
Myanmar Batasi Pembelian BBM
Di Myanmar, pemerintah mulai menerapkan sistem barcode dan QR code untuk pembelian bahan bakar.
Dengan sistem ini, jumlah BBM yang bisa dibeli masyarakat akan dibatasi secara ketat. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pasokan energi semakin menipis.
Singapura dan Malaysia Siaga Penuh
Singapura memperkirakan tarif listrik akan naik hingga 11 persen. Pemerintah pun mendorong masyarakat untuk menghemat energi, sambil tetap memberikan bantuan bagi rumah tangga tertentu.