Ringkasan :
- Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran membantah klaim negosiasi damai dengan AS.
- Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel, membebani Rupiah.
- Pemerintah Indonesia bahkan harus rela memangkas anggaran program prioritas demi menjaga stabilitas fiskal.
fin.co.id - Kalian yang tadinya merasa lega karena ada harapan perdamaian di Timur Tengah, tampaknya harus menarik napas dalam-dalam lagi.
Harapan manis itu kini mulai runtuh, guys.
Para pelaku pasar global yang tadinya optimistis, kini mulai meragukan klaim-klaim damai yang beredar.
Akibatnya, dolar Amerika Serikat (AS) kembali perkasa dan memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda, Rupiah.
Kalau kamu punya aset dalam dolar atau berencana melakukan transaksi luar negeri, ini saatnya ekstra waspada dan perhatikan setiap sentimen yang berkembang.
Ketua Parlemen Iran Ungkap Fakta Mengejutkan: Klaim Damai Ternyata 'Hoax'!
Suhu politik di wilayah produsen minyak mentah dunia kembali mendidih, dan kali ini api berasal langsung dari Iran.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas membantah adanya negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.
Ia bahkan menyebut kabar perundingan tersebut hanyalah "berita palsu" yang sengaja disebarkan.
Tujuannya, kata Ghalibaf, adalah untuk memanipulasi pasar minyak dunia dan sektor finansial global yang sedang bergejolak.
Pernyataan dari pejabat tinggi Iran ini tentu saja langsung memukul telak harapan para investor yang mendambakan stabilitas global.
Ghalibaf tidak main-main, ia bahkan menegaskan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman berat bagi para agresor.