“Khamenei telah menyiapkan daftar penerus untuk berbagai posisi penting,” ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Iran telah mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, termasuk konflik berkepanjangan.
Dalam analisisnya, Dulat menyebut bahwa Amerika Serikat kerap meremehkan kekuatan Iran.
Ia mengingat kembali pernyataan Henry Kissinger pada tahun 2005 yang menyebut Iran bisa “lenyap dari peta dunia” jika tidak patuh.
Namun, lebih dari dua dekade berlalu, Iran justru tetap bertahan dan bahkan memperkuat pengaruhnya di kawasan.
Poros Rusia–China Jadi Kunci Kekuatan Iran
Dulat juga menyoroti kekuatan aliansi global yang kini mendukung Iran, terutama dari Rusia dan China.
“Rusia dan China sangat mendukung Iran, tidak diragukan lagi,” ujarnya.
Dukungan ini membuat posisi Iran semakin kuat, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun diplomasi internasional.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Donald Trump dilaporkan telah mengirim proposal damai 15 poin kepada Iran.
Namun, Teheran disebut menolak proposal tersebut dan justru mengajukan lima tuntutan balik.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga dikabarkan menambah sekitar 1.000 personel militer ke kawasan Timur Tengah, memicu spekulasi bahwa opsi militer tetap terbuka.
Bahkan, muncul isu bahwa AS mengincar Pulau Kharg—basis utama ekspor minyak Iran—yang bisa menjadi target strategis.