Ekonomi . 28/03/2026, 20:38 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Admin
Demikian pula, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga merasakan pukulan telak.
Penyebabnya, sebagian besar kontrak pembelian listrik mereka terikat erat dengan mata uang dolar AS.
Di sektor penerbangan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk harus mengerahkan seluruh upaya untuk mengendalikan biaya operasional.
Biaya ini terus meroket akibat lonjakan harga avtur.
Toto Pranoto, Managing Partner BRG LM FEB UI, secara spesifik menyoroti dampak negatif yang juga akan menghantam PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
BUMN Karya dan PT Pupuk Indonesia (Persero) juga tak luput dari ancaman serupa.
Mereka menghadapi peningkatan harga bahan baku konstruksi seperti aspal.
Selain itu, hambatan serius dalam rantai pasok pupuk yang vital bagi sektor pertanian juga menjadi masalah.
Namun, di tengah badai kesulitan yang melanda, ada segelintir BUMN yang bergerak di sektor komoditas.
Sektor-sektor ini berpotensi menuai keuntungan yang sangat besar.
Perusahaan pertambangan seperti PT Bukit Asam Tbk diprediksi akan mampu mendulang laba besar.
Hal ini didorong oleh lonjakan harga batu bara di pasar internasional yang semakin meningkat.
Sektor kelapa sawit pun tak luput dari berkah ini.
Produk biodiesel mereka akan menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak konvensional.
Harga minyak konvensional terus melonjak tajam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media