NGERIII! Rupiah Hari Ini AMBRUK Rp17.119 per Dolar AS, Ekonomi RI ZONA BAHAYA, APBN Terancam JEBOL

news.fin.co.id - 07/04/2026, 18:07 WIB

NGERIII! Rupiah Hari Ini AMBRUK Rp17.119 per Dolar AS, Ekonomi RI ZONA BAHAYA, APBN Terancam JEBOL

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar

Fin.co.id – Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pada perdagangan Selasa (7/4/2026), nilai tukar rupiah mencatatkan titik nadir terlemah sepanjang sejarah Indonesia.

Mata uang Garuda ambruk di level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sempat menyentuh angka mengkhawatirkan Rp17.119 pada tengah hari.

Pelemahan ini bukan sekadar deretan angka di bursa saham, melainkan lonceng bahaya yang siap menghantam daya beli masyarakat.

Menanggapi situasi ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tekanan terhadap mata uang lokal merupakan fenomena global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik.

Advertisement

“Itu bukan hanya rupiah saja. Berbagai currency lain juga demikian,” kata Airlangga Hartarto di Istana Kepresidenan, Jakarta, 7 April 2026.

Ambruknya nilai tukar rupiah memberikan efek domino yang sangat berat bagi postur APBN 2026. Berdasarkan data sensitivitas anggaran, pelemahan kurs ini ibarat pisau bermata dua:

  • Penerimaan negara: Setiap pelemahan Rp100 per dolar AS memang menambah kantong negara sebesar Rp5,3 triliun.
  • Beban belanja: Sayangnya, biaya belanja negara membengkak jauh lebih besar, yakni Rp6,1 triliun.
  • Hasil akhir: Terjadi defisit tambahan sekitar Rp800 miliar untuk setiap pelemahan Rp100. Dengan posisi rupiah yang kini jauh di atas asumsi awal, risiko jebolnya kas negara menjadi sangat nyata.

Subsidi BBM di Ujung Tanduk

Kondisi ekonomi semakin terjepit karena kenaikan harga minyak mentah dunia. Akibat gangguan rantai pasok di Selat Hormuz, harga minyak kini terbang ke level US$111 per barel. Padahal asumsi makro APBN 2026 hanya mematok harga US$70 per barel.

Indonesia berada dalam posisi sulit karena mengalami defisit minyak yang parah. Produksi nasional hanya mampu menghasilkan 605.000 barel per hari.

Sementara kebutuhan domestik melonjak hingga 1,65 juta barel per hari. Selisih 1 juta barel ini harus diimpor menggunakan dolar yang harganya kini selangit.

"Kenaikan harga minyak mentah yang ekstrem dan gangguan rantai pasok global berpotensi besar memicu imported inflation. Masyarakat akan merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga barang konsumsi," tulis laporan ekonomi Bloomberg Technoz.

Peta Kekuatan Mata Uang Asia, Rupiah Terparah

Advertisement

Meskipun Indeks Dolar sebenarnya sedikit melemah ke posisi 99,87, rupiah tetap gagal bangkit. Dibandingkan rekan regionalnya, posisi rupiah terlihat cukup rentan:

  • Melemah: Peso Filipina (-0,46%), Dolar Taiwan (-0,09%), dan Ringgit Malaysia (-0,04%).
  • Menguat: Won Korea (+0,67%), Yuan China (+0,31%), dan Baht Thailand (+0,13%).

Rizal Husen
Rizal Husen
Penulis

Penulis FIN.CO.ID