fin.co.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa sore dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini mendapat tanggapan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, Airlangga menilai tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami oleh rupiah. Menurutnya, sejumlah mata uang lain di dunia juga mengalami kondisi serupa.
"Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain juga demikian," kata Airlangga singkat.
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah tercatat turun 70 poin atau sekitar 0,41 persen. Posisi mata uang Garuda berada di level Rp17.105 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp16.980 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Situasi tersebut dipicu oleh penolakan Iran terhadap proposal Amerika Serikat yang menawarkan gencatan senjata selama 45 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Tawaran tersebut juga dikaitkan dengan proses negosiasi lebih luas mengenai pencabutan sanksi dan rekonstruksi.
Di sisi lain, Iran justru mengajukan sejumlah tuntutan lain. Negara tersebut meminta penghentian konflik secara permanen, jaminan agar tidak ada serangan di masa depan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi.
“Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa itu tegas dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ia juga mengatakan Iran dapat disingkirkan dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Ibrahim.
Ketegangan tersebut dinilai memicu gangguan pada distribusi energi global. Dampaknya, harga minyak terdorong naik dan memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi serta ketidakpastian kebijakan moneter ke depan.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah. Nilainya tercatat di level Rp17.092 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.037 per dolar AS. *