Salah satu isu utama yang menjadi sumber perbedaan interpretasi adalah terkait penghentian serangan Israel di Lebanon.
Beberapa laporan media internasional bahkan menyebutkan bahwa Iran mengancam akan menarik diri dari perundingan jika serangan militer Israel terus berlanjut.
Ketidakjelasan mengenai isi kesepakatan tersebut membuat suasana menjelang perundingan di Islamabad semakin tegang.
Selain menimbulkan ketegangan geopolitik, konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel juga memberikan dampak besar terhadap perekonomian dunia.
Selama perang berlangsung, harga minyak global sempat melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi tersebut memberikan tekanan besar bagi ekonomi regional di Timur Tengah serta memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global.
Kawasan Asia Barat sendiri menjadi salah satu wilayah paling terdampak akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dalam perkembangan terbaru, Iran juga menyatakan bahwa mereka tidak akan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz jika serangan Israel masih terus berlangsung.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia karena sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati wilayah tersebut.
Jika jalur tersebut ditutup atau dibatasi, dampaknya bisa sangat besar terhadap pasar energi global.
Karena itu, isu Selat Hormuz menjadi salah satu faktor penting yang meningkatkan ketegangan geopolitik dalam konflik ini.
Perdamaian Masih Tidak Pasti
Putaran pertama pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Sabtu pagi waktu setempat di Islamabad.
Namun dengan adanya kabar bahwa Iran kemungkinan tidak menghadiri pertemuan tersebut, masa depan negosiasi damai menjadi semakin tidak pasti.
Banyak pengamat menilai bahwa keberhasilan perundingan sangat bergantung pada kesediaan semua pihak untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai. (*)