fin.co.id - Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap efisiensi anggaran negara, munculnya angka fantastis terkait penggunaan jasa event organizer (EO) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) langsung memicu perdebatan luas.
Perbincangan ini bermula dari unggahan di media sosial yang menyebut nilai anggaran untuk jasa EO mencapai lebih dari Rp113 miliar.
Angka tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan urgensi penggunaan jasa penyelenggara acara oleh lembaga pemerintah yang baru berdiri tersebut.
Berbagai komentar muncul di ruang publik, mulai dari yang mempertanyakan prioritas anggaran hingga yang meminta penjelasan resmi dari pemerintah.
Menanggapi polemik tersebut, Badan Gizi Nasional akhirnya memberikan klarifikasi mengenai penggunaan anggaran tersebut.
BGN Akui Anggaran EO Rp113,9 Miliar
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, membenarkan adanya alokasi anggaran untuk jasa event organizer dengan nilai total mencapai Rp113,91 miliar.
Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan jasa EO tersebut merupakan bagian dari kebutuhan strategis lembaga yang masih berada pada tahap awal pembentukan.
Menurut Dadan, BGN saat ini masih dalam proses membangun sistem organisasi, struktur kerja, serta tata kelola operasional yang memadai.
“Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Karena itu, penggunaan jasa pihak ketiga seperti event organizer dinilai menjadi solusi praktis agar berbagai program lembaga tetap dapat berjalan.
Dadan menjelaskan bahwa penyelenggara acara profesional memiliki berbagai kompetensi yang saat ini belum sepenuhnya dimiliki oleh internal Badan Gizi Nasional.
Kemampuan tersebut mencakup berbagai aspek penting dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.
Mulai dari: