fin.co.id – Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah belum mereda pada pembukaan perdagangan Selasa pagi. Mata uang Garuda kembali menunjukkan pelemahan dan harus rela bertengger di kisaran level Rp 17.100-an per Dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir data dari Bloomberg pada Selasa 14 April 2026 pukul 09.20 WIB, nilai tukar Dolar AS merangkak naik ke posisi Rp 17.134. Angka ini mencerminkan penguatan mata uang Paman Sam sebesar 29 poin atau setara dengan kenaikan 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan Dolar AS di Pasar Global
Keperkasaan Dolar AS tidak hanya menghantam Rupiah, namun juga memberikan dampak bervariasi terhadap sejumlah mata uang dunia lainnya. Di kawasan Asia, mata uang Negeri Paman Sam tersebut terpantau masih memiliki taji di hadapan beberapa rival utamanya.
Berikut adalah rincian pergerakan Dolar AS terhadap mata uang global pagi ini:
Penguatan di Asia: Dolar AS tercatat menguat tipis 0,04 persen terhadap Dolar Hong Kong dan naik 0,08 persen terhadap Won Korea Selatan.
Koreksi Terhadap Mata Uang Utama: Di sisi lain, Dolar AS justru kehilangan tenaga saat berhadapan dengan Yen Jepang yang menguat 0,14 persen. Pelemahan serupa juga terjadi terhadap Dolar Kanada dan Franc Swiss yang masing-masing naik tipis 0,03 persen.
Dampak Bagi Ekonomi Domestik
Kenaikan kurs Dolar AS hingga melampaui ambang Rp 17.000 menjadi perhatian serius para pelaku pasar dan industri di tanah air. Kondisi ini diprediksi akan berdampak pada beban impor barang modal dan bahan baku yang semakin mahal, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Para analis memperkirakan volatilitas ini masih akan berlanjut mengikuti sentimen kebijakan moneter global dan kondisi geopolitik yang dinamis. Hingga berita ini diturunkan, pasar masih menanti langkah intervensi dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak terperosok lebih dalam.