fin.co.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah perundingan penting antara kedua negara dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, secara terbuka mengungkapkan bahwa kegagalan tersebut bukan semata karena perbedaan pandangan, melainkan akibat perubahan sikap mendadak dari pihak AS saat kesepakatan hampir tercapai.
Menurut Aragchi, pembicaraan yang berlangsung di Islamabad sebenarnya sudah mendekati titik akhir.
Ia menegaskan bahwa Iran telah bernegosiasi dengan itikad baik untuk mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan damai.
“Kami hanya beberapa inci dari kesepakatan. Namun kami menghadapi maksimalisme, perubahan aturan main, dan blokade,” ujar Aragchi dalam pernyataannya di media sosial.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran merasa dikhianati oleh perubahan mendadak dalam posisi negosiasi AS.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa kegagalan negosiasi disebabkan oleh belum adanya komitmen kuat dari Iran terkait program nuklirnya.
Menurut Vance, AS membutuhkan jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Kami belum melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah Donald Trump telah memberikan fleksibilitas dalam negosiasi, namun tetap tidak membuahkan hasil.
Menariknya, dalam perundingan tersebut, isu strategis lain seperti pembukaan kembali Selat Hormuz tidak banyak disorot secara terbuka.
Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, dan setiap ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.