21 Jam Negosiasi Berakhir Tanpa Hasil
Perundingan antara kedua negara dilaporkan berlangsung lebih dari 21 jam, namun tetap berujung buntu.
Pihak AS bahkan disebut telah mengajukan proposal akhir yang bertujuan menghentikan program nuklir Iran secara permanen.
Namun, Iran menolak persyaratan tersebut.
“Kami sudah menjelaskan batasan kami dan apa yang bisa kami akomodasi. Mereka memilih untuk tidak menerima,” kata Vance.
Kegagalan ini menempatkan pemerintahan AS pada situasi yang tidak mudah. Berdasarkan laporan media internasional, ada dua skenario yang mungkin terjadi:
-
Melanjutkan negosiasi panjang dengan Iran terkait program nuklir
-
Kembali ke konflik terbuka, yang berpotensi memicu krisis energi global
Konflik terbuka tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa mengganggu pasokan energi dunia dan memperburuk kondisi ekonomi global.
Keputusan Kini di Tangan Gedung Putih
Sejumlah pejabat di Gedung Putih menyebut bahwa langkah selanjutnya akan ditentukan langsung oleh Presiden Donald Trump.
Namun, setiap keputusan yang diambil dipastikan memiliki konsekuensi besar, baik secara politik maupun strategis.
Gagalnya negosiasi ini menunjukkan bahwa konflik lama antara Iran dan AS, khususnya terkait program nuklir, masih jauh dari kata selesai.
Perbedaan mendasar dalam hal kepercayaan dan kepentingan strategis menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan.
Di satu sisi, AS ingin memastikan keamanan global dengan membatasi program nuklir Iran. Di sisi lain, Iran merasa berhak mengembangkan teknologi tersebut untuk kepentingan nasionalnya. (*)