fin.co.id - Upaya meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan berliku setelah jalur diplomasi belum menunjukkan hasil konkret.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat kembali ke Pakistan pada Minggu 26 April 2026 untuk membahas kelanjutan negosiasi gencatan senjata. Namun, di saat bersamaan, Presiden Donald Trump justru menyatakan bahwa dialog tidak perlu dilakukan secara langsung.
"Kalau mereka mau, kita bisa bicara, tapi kami tidak akan mengirim orang (utusan). Yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!”tegas Trump, menandakan perubahan pendekatan dari diplomasi tatap muka menjadi komunikasi jarak jauh.
Kunjungan Araghchi sempat membingungkan setelah ia meninggalkan Islamabad sehari sebelumnya, sebelum akhirnya kembali singkat dan melanjutkan perjalanan ke Rusia. Sebelumnya, ia juga berada di Oman yang dikenal sebagai mediator penting dalam konflik kawasan, terutama terkait jalur strategis Selat Hormuz.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Ketegangan utama saat ini berpusat di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran dilaporkan membatasi pergerakan kapal di kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran.
Seorang pejabat regional menyebut Iran tengah mendorong mekanisme pungutan bagi kapal yang melintas di selat tersebut, meski respons dari Oman belum jelas.
Selain itu, Iran juga menuntut penghentian blokade Amerika sebelum melanjutkan negosiasi lebih lanjut. Peran Pakistan sebagai mediator dinilai krusial untuk menjembatani perbedaan besar antara kedua negara.
Ancaman Militer dan Syarat Nuklir
Meski jalur diplomasi tetap terbuka, ancaman militer belum mereda. Komando militer Iran memperingatkan akan memberikan respons keras jika Amerika terus melakukan aksi agresif, termasuk blokade laut.
Sebaliknya, Trump mengeluarkan perintah tegas kepada militernya untuk mengambil tindakan ekstrem terhadap ancaman di perairan strategis.
Di sisi lain, isu nuklir tetap menjadi titik krusial. Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara data dari badan pengawas nuklir PBB menunjukkan Iran telah memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—mendekati level senjata.
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah mengajukan proposal baru yang disebutnya “jauh lebih baik”, meski tidak merinci isi tawaran tersebut.
Dampak Global dan Harga Minyak
Krisis yang berlangsung selama dua bulan ini telah mengguncang rantai pasok global, termasuk minyak, gas alam cair, dan pupuk. Hampir tertutupnya Selat Hormuz membuat distribusi energi dunia terganggu.