fin.co.id - Kinerja perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan hasil yang cukup positif. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy), didorong oleh kuatnya permintaan domestik, belanja pemerintah, serta investasi yang tetap tumbuh stabil.
Di saat bersamaan, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus yang meningkat. Pada Maret 2026, surplus perdagangan mencapai USD 3,32 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor nonmigas yang mencetak surplus hingga USD 5,21 miliar.
Secara teori, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan surplus perdagangan seharusnya mampu memperkuat nilai tukar rupiah. Namun kenyataannya, rupiah masih berada dalam tekanan di pasar keuangan global.
Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan besar: mengapa rupiah belum juga menguat meski fundamental ekonomi Indonesia tergolong cukup kuat?
Surplus Perdagangan Belum Cukup Angkat Rupiah
Surplus perdagangan selama ini dikenal sebagai salah satu penopang utama stabilitas ekonomi nasional. Ketika ekspor lebih besar dibanding impor, aliran devisa masuk ke dalam negeri biasanya meningkat dan membantu memperkuat nilai tukar mata uang.
Pada Maret 2026, surplus perdagangan Indonesia ditopang oleh ekspor komoditas sumber daya alam dan produk manufaktur yang masih cukup tinggi.
Namun dalam sistem nilai tukar mengambang terkendali seperti di Indonesia, pergerakan rupiah ternyata tidak hanya dipengaruhi perdagangan barang dan jasa. Faktor lain seperti arus modal asing dan sentimen pasar global justru memiliki pengaruh yang sangat besar.
Akibatnya, meskipun perdagangan Indonesia surplus, tekanan terhadap rupiah tetap terjadi karena investor global lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.
Faktor Global Jadi Penekan Utama Rupiah
Pelemahan rupiah saat ini dinilai lebih banyak dipengaruhi kondisi global dibanding lemahnya fundamental ekonomi domestik.
Pasar keuangan internasional masih dibayangi ketidakpastian, mulai dari arah suku bunga negara maju, inflasi global, hingga tensi geopolitik dunia. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung memindahkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, terutama dolar Amerika Serikat.
Hal tersebut membuat permintaan dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski begitu, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi agar pelemahan rupiah tidak mengganggu ekonomi nasional secara keseluruhan.