Meski Iran sempat membuka kembali jalur tersebut pada 17 April setelah muncul kesepakatan gencatan senjata, selat itu kembali ditutup sehari kemudian sebagai bentuk protes terhadap kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Akibat kondisi tersebut, pasokan minyak global terganggu dan harga energi di Amerika Serikat melonjak tajam.
Warga AS Mulai Salahkan Trump
Kenaikan harga minyak dan gas di Amerika Serikat kini mulai memicu protes publik terhadap Donald Trump.
Berdasarkan survei yang dirilis Reuters dan Ipsos pada April 2026, sebanyak 77 persen warga AS disebut menyalahkan Trump atas lonjakan harga energi akibat perang dengan Iran.
Situasi ini dinilai menjadi pukulan politik bagi Trump menjelang agenda diplomatik pentingnya ke China dalam waktu dekat.
Trump Dikabarkan Kecewa Berat dengan Netanyahu
Mantan diplomat AS untuk Israel, Daniel Shapiro, menyebut Trump kini merasa kecewa berat terhadap Netanyahu.
Menurut Shapiro, Trump menilai dirinya telah didorong masuk ke konflik besar yang justru membuat Amerika Serikat mengalami tekanan ekonomi dan militer.
Karena itu, Trump disebut sangat ingin segera mengakhiri perang dengan Iran sebelum kunjungannya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada pertengahan Mei 2026.
Shapiro mengatakan Trump tidak ingin datang ke China dalam posisi lemah atau harus meminta bantuan Beijing untuk menekan Iran menerima syarat perdamaian.
Konflik Iran Jadi Tantangan Besar Politik Global
Memburuknya hubungan Trump dan Netanyahu menjadi sorotan internasional karena keduanya selama ini dikenal memiliki hubungan politik yang sangat dekat.
Namun perang Iran dinilai mulai mengubah dinamika tersebut. Tekanan ekonomi, kenaikan harga minyak, hingga ketidakstabilan keamanan kawasan membuat konflik ini menjadi tantangan besar bagi politik global.
Para analis menilai langkah diplomasi dalam beberapa pekan ke depan akan sangat menentukan arah hubungan AS, Israel, Iran, dan negara-negara besar lainnya. (*)