Internasional . 15/05/2026, 22:35 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak percaya kepada Amerika Serikat dan hanya bersedia melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan dalam mencari solusi damai.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi kepada wartawan di New Delhi, India, Jumat, 15 Mei 2026, saat pembicaraan untuk mengakhiri konflik masih tertunda.
Menurut dia, sikap Amerika Serikat selama proses diplomasi memunculkan banyak keraguan di pihak Iran.
Araghchi mengatakan pesan-pesan yang saling bertentangan dari Washington membuat Teheran mempertanyakan niat sebenarnya dari pemerintah Amerika Serikat.
Dalam kesempatan tersebut, Araghchi juga membahas kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Ia mengatakan semua kapal masih dapat melintasi Selat Hormuz, kecuali kapal-kapal yang sedang berperang dengan Iran dan tidak melakukan koordinasi dengan angkatan laut Iran.
Namun, menurut dia, kondisi di sekitar jalur pelayaran tersebut masih sangat rumit.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital karena menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melalui jalur laut.
Iran sebelumnya secara efektif menutup akses selat tersebut bagi sebagian besar pengiriman setelah Amerika Serikat dan Israel memulai perang terhadap Iran pada Februari lalu.
Upaya negosiasi antara Washington dan Teheran hingga kini belum mencapai kesepakatan permanen meski kedua negara sempat mengumumkan gencatan senjata bulan lalu.
Perundingan yang dimediasi Pakistan juga masih tertunda setelah Iran dan Amerika Serikat saling menolak proposal terbaru pekan lalu.
Araghchi menegaskan proses mediasi belum gagal, tetapi saat ini sedang berada dalam kondisi sulit.
Ia juga menyinggung dua putaran perundingan sebelumnya yang terhenti setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Meski demikian, Iran tetap berusaha mempertahankan gencatan senjata terbaru demi memberi ruang bagi diplomasi.
Namun, Teheran juga mengaku siap kembali menghadapi perang jika situasi memburuk.
Araghchi menyebut sejumlah isu utama masih menghambat negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Beberapa di antaranya ialah ambisi nuklir Iran dan kontrol Teheran terhadap Selat Hormuz.
Beberapa jam sebelum Araghchi memberikan pernyataan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis.
Trump juga menyebut dirinya telah sepakat dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Teheran harus membuka kembali Selat Hormuz.
Saat ditanya soal kemungkinan mediasi China, Araghchi mengatakan Iran menyambut baik bantuan dari negara mana pun yang mampu membantu proses diplomasi.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tiongkok,” katanya.
“Kami adalah mitra strategis, dan kami tahu bahwa Tiongkok memiliki niat baik. Jadi, apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membantu diplomasi akan disambut baik.”
Araghchi berharap negosiasi ke depan dapat menghasilkan solusi yang baik sehingga keamanan Selat Hormuz kembali normal dan aktivitas pelayaran internasional dapat berjalan lancar.
“Kami berharap bahwa, dengan kemajuan negosiasi, kami akan mencapai kesimpulan yang baik sehingga Selat Hormuz dapat sepenuhnya diamankan dan kami dapat mempercepat normalisasi lalu lintas melalui selat tersebut.”
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media