Artinya, siswa dari daerah mana pun di Jawa Barat tetap memiliki peluang yang sama untuk diterima selama memenuhi syarat prestasi yang ditentukan.
“Ini nanti tidak menggunakan lagi sistem zonasi. Sekolah Maung ini adalah sekolah yang hanya menggunakan jalur prestasi baik itu prestasi akademik maupun non akademik,” tegas Purwanto.
Kebijakan ini langsung menjadi perhatian masyarakat karena berbeda dengan pola penerimaan sekolah negeri selama beberapa tahun terakhir yang identik dengan zonasi.
Jalur Akademik dan Non Akademik Jadi Penilaian Utama
Untuk jalur akademik, Disdik Jabar akan mempertimbangkan:
-
potensi akademik
-
kemampuan akademik
-
kategori cerdas bakat istimewa
Sementara jalur non-akademik membuka kesempatan bagi siswa yang memiliki prestasi di berbagai bidang.
“Yang non akademiknya bisa menggunakan sertifikat sertifikat kejuaraan baik dalam bidang seni olahraga maupun keagamaan dan kepemimpinan,” kata Purwanto.
Dengan sistem tersebut, siswa yang aktif berprestasi di bidang olahraga, seni, organisasi, hingga keagamaan tetap memiliki peluang besar diterima di Sekolah Maung.
Disdik Jawa Barat berharap masyarakat dapat memahami perubahan pola penerimaan siswa baru di Sekolah Maung karena program ini memang dirancang menjadi pusat pendidikan unggulan berbasis kualitas dan prestasi.
Selain itu, sosialisasi juga terus dilakukan agar calon siswa dan orang tua memahami mekanisme seleksi yang berbeda dari sekolah reguler.
“Mudah-mudahan ini nanti bisa disosialisasikan semuanya ke masyarakat kita, ada 41 totalnya, SMA dan SMK,” pungkas Purwanto.
Program Sekolah Maung sendiri diproyeksikan menjadi salah satu langkah Pemprov Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mencetak siswa unggulan di berbagai bidang akademik maupun non-akademik. (*)