fin.co.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah terus berupaya menjaga nilai tukar rupiah agar lebih stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah lebih aktif masuk ke pasar obligasi atau pasar surat utang negara.
"Kita sudah masuk ke bond market bertahap. Asing juga sudah masuk juga, jadi seharusnya ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil,” kata Purbaya usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Purbaya juga mengatakan pemerintah akan terus masuk ke pasar obligasi setiap hari untuk membantu menjaga kondisi pasar tetap stabil.
"Saya akan masuk setiap hari ke bond market," kata Menkeu menambahkan.
Pemerintah nantinya akan menjalankan skema Dana Stabilisasi Obligasi dengan memakai anggaran yang sudah tersedia. Menurut Purbaya, pemerintah menyiapkan sekitar Rp2 triliun per hari untuk masuk ke pasar obligasi.
Ia menjelaskan dana tersebut berasal dari pengelolaan kas pemerintah sehingga tidak menjadi masalah bagi keuangan negara.
"Kita masih punya beberapa tempat, itu kan hanya cash management saja. Jadi tidak masalah," jelas Purbaya.
Menurutnya, masuknya dana ke pasar obligasi diharapkan bisa membuat kondisi pasar lebih positif. Jika pasar membaik, investor asing biasanya akan kembali menanamkan modal di Indonesia.
Sebelumnya, Purbaya juga menyatakan pemerintah siap menjaga pasar obligasi agar imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tidak naik terlalu tinggi. Sebab, kenaikan imbal hasil yang berlebihan bisa membuat investor asing mengalami kerugian dan menarik dananya dari Indonesia.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.667 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 71 poin atau 0,41 persen ke level Rp17.667 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi kuatnya tekanan eksternal yang membuat mata uang dolar AS kembali menguat di pasar global.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.