“Ketika bunga naik, cicilan otomatis ikut meningkat. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat juga sedang melemah, sehingga penjualan produk-produk besar kemungkinan ikut tertekan,” jelas Wijayanto.
Produk-produk big ticket item seperti rumah, apartemen, mobil, motor, hingga elektronik diprediksi akan mengalami perlambatan penjualan karena masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil kredit baru.
Kredit Fixed Rate Masih Aman
Meski demikian, tidak semua pinjaman akan langsung terdampak.
Wijayanto menjelaskan bahwa kredit dengan bunga tetap atau fixed rate relatif aman karena cicilan tidak berubah hingga masa bunga tetap berakhir.
Sebaliknya, kredit dengan bunga floating akan mengikuti perubahan suku bunga pasar sehingga nilai cicilan bisa meningkat setelah BI Rate naik.
“Pinjaman dengan bunga tetap tidak akan mengalami kenaikan suku bunga. Tetapi pinjaman dengan bunga floating akan mengalami kenaikan nilai cicilan,” ujarnya.
Tabungan dan Deposito Jadi Lebih Menarik
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga bisa memberi keuntungan bagi masyarakat yang menyimpan uang di bank.
Ketika BI Rate naik, bunga tabungan dan deposito biasanya ikut meningkat sehingga instrumen simpanan menjadi lebih menarik.
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat kemungkinan memilih menabung dibanding melakukan konsumsi besar atau investasi berisiko tinggi.
Bank Indonesia juga menyebut pemahaman mengenai BI Rate penting bagi masyarakat karena dapat membantu dalam mengambil keputusan keuangan, mulai dari pengelolaan pinjaman hingga strategi investasi.
Meski BI sudah menaikkan suku bunga secara cukup agresif, pelemahan rupiah diperkirakan belum tentu langsung berhenti.
Wijayanto menilai persoalan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor jangka pendek, tetapi juga masalah fundamental ekonomi nasional seperti kondisi fiskal dan neraca pembayaran.
“Pelemahan rupiah terjadi karena kondisi fiskal yang buruk dan masalah struktural pada neraca pembayaran yang terus menunjukkan tren defisit,” jelasnya.