fin.co.id – Kabar baik datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa draf nota kesepahaman (MoU) terkait kesepakatan damai dengan Iran saat ini sudah "sebagian besar dinegosiasikan." Langkah besar ini bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang krusial bagi pasokan energi global.
Melalui media sosial Truth Social, Sabtu, 23 Mei 2026, Trump menyatakan bahwa detail akhir dari draf perjanjian ini sedang dalam pembahasan intensif dan akan segera mereka umumkan ke publik. Penutupan jalur laut vital ini sebelumnya sempat mengacaukan pasar energi dunia setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran sejak Februari lalu.
Meskipun begitu, klaim sepihak dari Trump langsung mendapat respons dari Teheran. Kantor berita Iran, Fars, melaporkan pada Minggu pagi bahwa pernyataan Trump tidak sesuai dengan kenyataan. Pihak Iran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut nantinya harus tetap memberikan hak bagi Iran untuk mengelola Selat Hormuz sepenuhnya.
Gencatan Senjata 60 Hari dan Nasib Program Nuklir Iran
Situs berita AS, Axios, membeberkan bocoran draf perjanjian damai yang sedang digodok tersebut. AS dan Iran kabarnya hampir mencapai titik temu yang mencakup beberapa poin krusial selama masa perpanjangan gencatan senjata 60 hari:
- Pembukaan Selat Hormuz: Jalur pelayaran akan dibuka kembali tanpa biaya tol.
- Kebebasan Ekspor Minyak: Iran akan mendapatkan izin untuk menjual minyak mentah mereka secara bebas ke pasar global.
- Pencabutan Blokade dan Sanksi: Pihak Amerika Serikat akan mengakhiri blokade terhadap berbagai pelabuhan Iran serta mengeluarkan pengecualian sanksi minyak.
- Komitmen Nuklir Iran: Iran harus berkomitmen untuk tidak pernah membuat senjata nuklir, menangguhkan program pengayaan uranium, serta melenyapkan persediaan uranium yang sangat diperkaya (highly enriched uranium).
The New York Times juga menambahkan bahwa Iran memiliki "komitmen yang jelas" untuk melepaskan persediaan uranium tersebut. Namun, dua pejabat AS membisikkan bahwa rincian teknis penyerahan persediaan akan menjadi pembahasan pada putaran negosiasi berikutnya.
Selama konflik tiga bulan ini, Trump berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama serangan AS adalah mencegah Iran memiliki senjata pemusnah massal. Di sisi lain, Iran konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyatakan pengayaan uranium mereka murni untuk tujuan sipil.
Peran Pakistan dalam Negosiasi Tiga Tahap
Upaya perdamaian ini tidak lepas dari peran penting Pakistan sebagai mediator. Para pejabat tinggi Iran baru saja menggelar pertemuan dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir. Militer Pakistan menyebut hasil negosiasi ini menunjukkan kemajuan yang sangat "menggembirakan" dan cukup komprehensif untuk menyudahi konflik.
Menurut sumber dari Reuters, kerangka kerja perdamaian ini akan berjalan dalam tiga fase utama:
- Mengakhiri perang secara resmi antara kedua belah pihak.
- Menyelesaikan krisis keamanan di Selat Hormuz.
- Membuka ruang negosiasi selama 30 hari (bisa diperpanjang) untuk mencapai perjanjian yang lebih luas.
Jika pemerintah AS menerima nota kesepahaman ini, pembicaraan lanjutan bakal bergulir setelah libur Idul Fitri berakhir pada hari Jumat. Masalah ini tampaknya menjadi prioritas utama Trump, mengingat popularitasnya merosot akibat lonjakan harga energi di AS. Ia bahkan rela membatalkan kehadiran di acara pernikahan putranya demi tetap tinggal di Washington untuk mengawal isu ini.
Tuntutan Iran dan Kesiapan Militer Jika Perang Berlanjut
Di tengah proses diplomasi, Trump langsung bergerak cepat menghubungi para pemimpin negara Timur Tengah dan Asia, seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, hingga Pakistan. Mereka mendesak Trump agar segera menyetujui draf kerangka kerja ini. Selain itu, Trump juga menyebut komunikasinya via telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjalan sangat positif.