Internasional

Ketegangan Memanas, Iran Serang Kapal AS-Israel dengan Rudal Jelajah

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan rudal jelajah terhadap kapal Amerika Serikat-Israel MSC Sariska sebagai respons atas tindakan militer AS terhadap kapal Iran Lion Star di Teluk Oman.

Ketegangan Memanas, Iran Serang Kapal AS-Israel dengan Rudal Jelajah
AS kerahkan 21 kapal militer ke Timur Tengah demi tegakkan blokade tembok baja Iran.

Melalui unggahan di platform X, Centcom menyatakan pesawat tempur AS menyerang sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, serta dua drone yang dinilai mengancam kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Iran mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku.

IRGC kemudian menyatakan telah menargetkan pangkalan yang diklaim digunakan Amerika Serikat untuk menyerang menara komunikasi di Pulau Sirik, yang berada sekitar 65 kilometer dari pesisir selatan Iran.

Militer Iran juga memperingatkan bahwa respons yang diberikan akan "sama sekali berbeda" jika tindakan agresif AS kembali terulang.

Di Kuwait, militer setempat melaporkan telah menghadapi serangan rudal dan drone pada Senin pagi. Sirene peringatan serangan udara juga dilaporkan berbunyi di berbagai wilayah negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras serangan yang disebut sebagai tindakan Iran dan menilai insiden tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan.

Menurut pemerintah Kuwait, serangan itu berpotensi menghambat upaya meredakan ketegangan dan negara tersebut berhak mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan diri.

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, hingga kini Amerika Serikat dan Iran belum berhasil mencapai kesepakatan permanen. Trump beberapa kali menyatakan bahwa kedua negara semakin dekat dengan perjanjian damai, namun belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan.

Laporan CBS News menyebut rancangan terbaru kesepakatan mencakup penghentian kekerasan selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Penutupan jalur tersebut sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional. *

Berita Terkait