Rupiah Melemah Jadi Rp18.107 per Dolar AS pada Senin Pagi

news.fin.co.id - 08/06/2026, 09:22 WIB

Rupiah Melemah Jadi Rp18.107 per Dolar AS pada Senin Pagi

Rupiah hari ini melemah ke Rp18.107 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi.

fin.co.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin, 8 Juni 2026 pagi bergerak melemah 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp18.107 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan jika Anda bandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (AS) ke level 100,11 memicu pemburukan sentimen global yang akhirnya menekan pergerakan mata uang lokal kita.Bukan hanya rupiah yang lesu, mata uang di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya juga ikut terdampak oleh keperkasaan greenback. Pelemahan paling tajam hari ini menimpa ringgit Malaysia yang jatuh ke level terendah sejak Januari.

Kondisi ini terjadi karena para investor bersiap menghadapi kemungkinan sikap yang lebih hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Selain itu, meningkatnya ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum di sejumlah negara bagian Malaysia turut memperparah keadaan.Pergerakan Mata Kami Kawasan Asia: Mayoritas Berada di Zona MerahPagi ini, sebagian besar mata uang kawasan terpuruk di zona merah.

Baht Thailand menyusul ringgit Malaysia di posisi teratas, lalu diikuti oleh rupiah, dolar Taiwan, peso Filipina, dan yen Jepang.Namun, beberapa mata uang masih mampu menunjukkan perlawanan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan berhasil rebound, kemudian langkah positif ini disusul oleh yuan offshore, yuan China, serta dolar Singapura yang bergerak ke zona hijau.

Advertisement

Menanti Rilis Data Cadangan Devisa Negara

Bagi mata uang tanah air, rilisnya data cadangan devisa hari ini akan menjadi sentimen utama yang akan memengaruhi sikap pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.Pada akhir April, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa sebesar US$146,2 miliar.

Jumlah ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor, sehingga posisinya masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang berkisar sekitar tiga bulan impor. Angka tersebut membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki bantalan eksternal yang relatif kuat untuk menghadapi gejolak pasar global saat ini.

Meski begitu, masyrakat perlu mencermati bahwa cadangan devisa kita telah menyusut selama empat bulan beruntun. Sebagai catatan, sepanjang kuartal I-2026, cadangan devisa berkurang US$8,2 miliar. Setelah memperhitungkan penurunan yang terjadi pada bulan April, total penyusutan modal asing tersebut kini mencapai sekitar US$10,27 miliar.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID