Politik . 22/06/2026, 13:05 WIB

Wacana Prabowo-Gibran Periode Dinilai Bisa Persempit Ruang Elite Koalisi di 2029

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Menguatnya wacana pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode dinilai tidak hanya berdampak pada konfigurasi politik nasional menuju Pemilu 2029, tetapi juga berpotensi memengaruhi kalkulasi politik sejumlah elite partai koalisi yang selama ini disebut-sebut memiliki peluang menjadi calon wakil presiden.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai dorongan yang mulai muncul dari berbagai pihak, termasuk dari lingkaran Jokowi, dapat dibaca sebagai sinyal konsolidasi politik. Namun di sisi lain, wacana tersebut juga dinilai dapat mempersempit ruang bagi figur lain di dalam koalisi pemerintahan.

“Semakin kuat dorongan Prabowo-Gibran dua periode, semakin besar pula potensi kegelisahan di kalangan elite partai koalisi. Sebab ada tokoh-tokoh yang selama ini dipersepsikan memiliki kepentingan politik untuk masuk dalam bursa calon wakil presiden pada 2029,” kata Arifki kepada wartawan, Senin, 22 Juni 2026.

Ia menyebut sejumlah nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), hingga Zulkifli Hasan kerap dikaitkan dengan peluang strategis dalam peta Pilpres 2029 karena posisi politik dan basis dukungan yang mereka miliki.

Menurutnya, jika persepsi mengenai keberlanjutan pasangan Prabowo-Gibran menguat sejak awal, maka kompetisi untuk posisi calon wakil presiden di masa depan otomatis menjadi lebih terbatas.

“Hal ini tentu memengaruhi kalkulasi politik partai-partai koalisi,” ujarnya.

Arifki menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat memunculkan dilema di internal koalisi. Di satu sisi, partai memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas pemerintahan, namun di sisi lain juga perlu menyiapkan strategi jangka panjang dan mendorong kader terbaiknya dalam kontestasi nasional.

Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap pemerintah dan persiapan suksesi sering kali berjalan beriringan dalam dinamika politik.

“Karena itu, wacana dua periode tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dukungan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran, tetapi juga memiliki implikasi terhadap distribusi peluang politik di dalam koalisi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai partai-partai politik kemungkinan akan mulai menyesuaikan strategi jangka panjang mereka apabila wacana tersebut terus menguat. Hal ini terutama berlaku bagi partai yang memiliki figur dengan modal elektoral dan struktural yang kuat.

Meski demikian, Arifki menegaskan bahwa arah politik menuju 2029 tetap sangat bergantung pada kinerja pemerintahan dalam beberapa tahun ke depan.

“Pada akhirnya yang menentukan bukan elite politik, melainkan publik. Namun ketika wacana dua periode mulai digaungkan sejak awal pemerintahan, partai-partai yang memiliki figur potensial tentu akan mulai menghitung ulang strategi dan posisi tawarnya,” katanya.

Ia menutup dengan menilai bahwa semakin sering wacana tersebut muncul ke ruang publik, semakin besar pula kemungkinan munculnya kompetisi terselubung di internal koalisi.

“Karena yang diperebutkan bukan hanya kekuasaan hari ini, tetapi juga tiket kekuasaan pada 2029,” pungkasnya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com