fin.co.id - Defisit Neraca Perdagangan Indonesia pada periode Mei 2026 terjadi akibat peningkatan volume impor minyak dan gas (migas). Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Kondisi ini diperparah oleh tren kenaikan harga minyak dunia di pasar global.
Saat berada di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta pada hari Rabu, 1 Juli 2026, Purbaya memberikan pandangannya mengenai situasi fundamental ekonomi terkini.
"Dugaan saya karena kita impor migas, harganya lagi naik kan? Minyak bumi, saya pikir di situ yang membuatnya (impor) naik,” kata Purbaya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan resmi yang menunjukkan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Angka minus ini sekaligus mengakhiri tren positif catatan surplus beruntun yang berhasil Indonesia pertahankan selama 72 bulan sejak Mei 2020 lalu.
Ketimpangan Sektor Migas dan Ketahanan Sektor Nonmigas
Jika kita membedah data yang rilis oleh BPS, ketimpangan antara dua sektor perdagangan ini terlihat sangat jelas. Sektor energi menjadi lubang utama yang menguras devisa, sementara sektor komoditas lain sebenarnya masih menunjukkan performa yang cukup tangguh:
Neraca Perdagangan Migas: Mengalami defisit yang cukup dalam sebesar 3,76 miliar dolar AS. Pembengkakan ini terutama bersumber dari aktivitas impor hasil minyak dan komoditas minyak mentah.
Neraca Perdagangan Nonmigas: Masih mampu mempertahankan performa positif dengan mencetak surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS. Penopang utama ekspor nonmigas ini berasal dari komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta produk besi dan baja.
Menkeu Imbau Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Berlebihan
Meskipun catatan bulanan mengalami rapor merah, Menkeu Purbaya menilai kondisi ekonomi makro dalam negeri ini belum masuk tahap yang mengkhawatirkan. Alasan utamanya adalah karena secara akumulatif hitungan tahunan, posisi neraca ekspor-impor Indonesia secara keseluruhan masih kokoh berada di zona positif.
Jika melihat data sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan total surplus yang melegakan sebesar 4,03 miliar dolar AS.
Keberhasilan mempertahankan surplus kumulatif ini mendapat sokongan kuat dari ketangguhan neraca perdagangan nonmigas yang menyentuh angka 16,31 miliar dolar AS. Di sisi lain, akumulasi sektor komoditas migas sepanjang lima bulan pertama tahun ini memang masih terbebani defisit sebesar 12,28 miliar dolar AS.
Purbaya optimistis bahwa fluktuasi ini merupakan dampak jangka pendek dari dinamika pasar komoditas energi global yang sedang bergejolak.
"Jadi kenaikannya betul seperti yang saya bilang tadi, karena migas yang defisitnya membesar karena harga minyak yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," jelas Menkeu.