Internasional . 06/08/2026, 15:59 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut negaranya mengalami kekurangan amunisi penting. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar dan memperingatkan pihak yang membocorkan informasi tersebut akan menghadapi proses hukum.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan stok amunisi Amerika Serikat tetap kuat, sementara industri pertahanan terus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan militer.
"AS memiliki jumlah 'amunisi' yang sangat besar, terutama untuk jenis-jenis tertentu," tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.
"Selain itu, jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun jumlah pabrik dan fasilitas produksi terbanyak dalam sejarah negara kita," lanjutnya.
Trump juga mengeluarkan peringatan keras kepada pihak yang dianggap membocorkan informasi mengenai kondisi persediaan amunisi negaranya.
"Para 'pembocor' pernyataan yang mengkhianati negara ini sedang diburu," tambahnya. "Hukuman penjara jangka panjang akan dituntut!"
Pernyataan Trump muncul setelah sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa menipisnya stok rudal pencegat atau interceptor menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menunda serangan tambahan terhadap Iran.
Menurut laporan Washington Post, Trump mempertanyakan Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat rapat kabinet yang berlangsung pekan lalu di Camp David, Maryland. Dalam pertemuan tersebut, Trump meminta penjelasan mengenai dugaan kekurangan amunisi yang disebut membatasi pilihan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Washington Post, yang mengutip dua sumber yang mengetahui percakapan tersebut, melaporkan bahwa Trump meminta penjelasan setelah mengetahui kekurangan sejumlah senjata penting, termasuk rudal kendali jarak jauh dan rudal pencegat pertahanan udara.
Laporan itu menyebut Trump mengira persoalan tersebut telah diselesaikan. Namun, menurut laporan yang sama, kekurangan amunisi masih terjadi dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pemerintah untuk tidak meluncurkan serangan berskala besar tambahan terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir.
Washington Post juga melaporkan bahwa produksi rudal Patriot membutuhkan waktu hingga dua tahun meskipun telah ada perjanjian produksi baru.
Masih berdasarkan laporan Washington Post, Pete Hegseth membela diri dalam percakapan tersebut. Ia disebut menyalahkan Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg atas kondisi kekurangan amunisi dan karena tidak memastikan Presiden Trump memperoleh informasi lengkap mengenai persediaan senjata Amerika Serikat.
Gedung Putih langsung membantah isi laporan tersebut. Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyebut pemberitaan itu tidak benar dan menegaskan Presiden Trump tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media