Nasional . 21/08/2026, 19:25 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan.
OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan sehingga kawasan yang rawan kebakaran dapat kembali basah. Namun, strategi tersebut tetap berjalan bersama pemadaman darat, patroli, deteksi dini, hingga koordinasi lintas instansi.
“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kalbar Berpeluang Kembali Gelar OMC
Di Kalimantan Barat, OMC sebelumnya dilaksanakan pada 13–17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Selama periode tersebut, tercatat sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
Peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23–27 Agustus 2026. BMKG saat ini berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempersiapkan operasi tersebut apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah berlangsung dalam dua tahap, yakni 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026. Total terdapat 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah. Hingga akhir Agustus, wilayah tersebut diperkirakan masih menghadapi cuaca relatif kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas.
“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” ujar Ristianto.
Karena itu, peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat dinilai kecil. Meski demikian, pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mencari kemungkinan munculnya awan yang memenuhi syarat penyemaian.
Di Kalimantan Selatan, pemerintah juga terus memantau perkembangan cuaca, titik panas, dan kondisi karhutla. Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan ketersediaan awan potensial serta kebutuhan penanganan di lapangan.
“Mengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,” katanya.
Armada Udara Diperkuat
Selain rekayasa cuaca, pemerintah memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara. Di Kalimantan Tengah, sejumlah armada seperti helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing telah dikerahkan.
Armada udara tersebut digunakan untuk mendukung tim darat, terutama dalam menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media