Internasional . 26/08/2026, 18:27 WIB

AS Tak Akan Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Washington Pilih Opsi Sanksi dan Blokade Laut

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Pemerintah Amerika Serikat mengubah strategi diplomasinya dengan mengisyaratkan bahwa Washington saat ini tidak berencana melancarkan aksi militer susulan ke wilayah Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah mengatakan kepada beberapa menteri luar negeri negara mitra, bahwa AS saat ini diperkirakan tidak melepaskan serangan baru terhadap Iran, Axios melaporkan pada Selasa, 25 Agustus 2026, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Daripada mengambil opsi militer, Rubio mengatakan, fokusnya akan beralih ke tindakan lain, termasuk inisiatif sanksi yang diumumkan awal pekan ini, menurut laporan tersebut.

AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari, yang memicu serangan Iran terhadap negara-negara tetangga dan kapal-kapal yang transit di Selat Hormuz. Pertempuran terhenti di bawah gencatan senjata yang rapuh pada bulan April setelah adanya nota kesepahaman, namun ketegangan kembali meningkat pada bulan Juli.

Amerika Serikat pada hari Senin mengumumkan perluasan sanksi yang menargetkan negara-negara dan entitas yang melakukan bisnis dengan Iran.

Washington juga memberlakukan blokade laut di selat tersebut terhadap kapal-kapal yang melakukan perjalanan ke dan dari Iran.

Dinamika Jalur Maritim dan Pengamanan Selat Hormuz

Tekanan ekonomi serta blokade maritim ini berdampak langsung pada lalu lintas pelayaran di kawasan Timur Tengah. Lima kapal komoditas transit di Selat Hormuz pada hari Selasa, sedikit berubah dari hari sebelumnya tetapi jauh di bawah rata-rata 10 hari yaitu 15 kapal, data pengiriman awal menunjukkan pada hari Rabu.

Dua kapal tanker yang membawa bahan bakar gas cair dan satu kapal tanker yang membawa aspal keluar dari Teluk melalui selat tersebut, sementara dua kapal tanker produk kosong memasuki jalur air dari Teluk Oman, data awal dari pelacak kapal Kpler menunjukkan pada pukul 04.08 GMT. Pada hari Senin, empat kapal komoditas transit di jalur air tersebut, data menunjukkan.

Angka tersebut dapat berubah karena beberapa kapal biasanya mematikan transponder lokasinya selama pelayaran.

Transit melalui Bab al-Mandeb, titik persimpangan maritim utama lainnya di Timur Tengah, juga mengalami sedikit perubahan yaitu 31 kapal komoditas dibandingkan 29 kapal pada hari sebelumnya, data Kpler menunjukkan, namun sejalan dengan rata-rata 10 hari.

Iran mengatakan pihaknya telah melanjutkan diskusi dengan Oman mengenai pengelolaan selat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Presiden AS Donald Trump.

Kedua belah pihak mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka telah menjajaki pembuatan koridor pelayaran bersama sementara dan setuju untuk menghilangkan ranjau dari jalur air tersebut.

“Perjanjian apa pun antara kedua pihak tidak berarti kita akan melihat normalisasi aliran minyak melalui titik-titik utama,” kata ING Economics dalam sebuah catatan.

“Kita mungkin perlu melihat AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan meringankan sanksi terhadap Iran sebelum kita melihat adanya langkah menuju normalisasi,” lanjut pernyataan itu.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com