Megapolitan . 07/09/2026, 19:06 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Sejumlah sekolah kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyusul kondisi abu vulkanik yang dilaporkan menyebar hingga ke wilayah Jakarta.
Perubahan pola belajar dari kelas secara langsung menjadi pembelajaran online membuat para guru harus menyiapkan metode yang berbeda. Tantangannya bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga mempertahankan perhatian siswa selama proses belajar berlangsung.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA BW II, Mifta Julianti, memilih strategi dengan tidak membuat seluruh durasi jam pelajaran digunakan untuk tatap muka melalui aplikasi konferensi video.
Dalam satu jam pelajaran selama 45 menit, ia hanya memanfaatkan sebagian waktu untuk berinteraksi langsung dengan para siswa melalui Zoom. Sekitar 10 menit digunakan untuk menjelaskan materi, kemudian pembelajaran dilanjutkan dengan pemberian tugas.
"Enggak melulu yang 45 menit itu kita nge-Zoom. Jadi kayak kita nge-Zoom, oke 10 menit untuk penjelasan, baru kita kasih tugas," ungkap Mifta saat ditemui Disway Group di lokasi, Senin, 7 September 2026.
Menurut Mifta, pola tersebut diterapkan agar kegiatan belajar tidak terasa monoton. Terlebih, pembelajaran dari rumah dinilai memiliki tantangan tersendiri karena guru tidak dapat memantau siswa secara langsung seperti ketika berada di ruang kelas.
Dalam pembelajaran tatap muka, guru bisa mengamati respons dan interaksi siswa selama materi diberikan. Kondisi tersebut berbeda saat kegiatan belajar dilakukan secara daring melalui Zoom maupun Google Meet.
Guru tidak selalu dapat mengetahui situasi siswa di tempat mereka mengikuti pembelajaran. Kesiapan siswa sebelum mengikuti pelajaran pun menjadi hal yang sulit dipantau secara langsung.
"Kalau misalnya lewat Zoom atau lewat Google Meet itu kan anak-anak kita belum tahu posisi mereka ada di mana, kita tidak tahu apakah mereka prepare dengan pembelajaran yang akan kita pelajari hari ini," jelas dia.
Untuk menjaga keterlibatan siswa, Mifta juga mengombinasikan tugas dengan permainan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Cara tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih santai sekaligus mencegah siswa cepat merasa bosan.
"Tugasnya juga yang menarik, kita learning atau dalam games kita masukin games yang dalam pembelajaran juga," kata dia.
Melalui metode tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima materi secara pasif. Mereka tetap memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran melalui aktivitas yang lebih interaktif.
"Jadi anak-anak juga ikut senang, pembelajaran walaupun jarak jauh," ucap Mifta.
Upaya menjaga fokus siswa menjadi salah satu alasan Mifta menerapkan metode tersebut. Sebab, salah satu kendala yang cukup sering dihadapi selama PJJ adalah kemampuan siswa mempertahankan konsentrasi ketika proses belajar berlangsung dari jarak jauh.
Mifta mengakui bahwa pembelajaran daring masih memiliki sejumlah keterbatasan. Dibandingkan pembelajaran secara langsung di sekolah, PJJ menurutnya belum mampu memberikan efektivitas yang sama.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media