fin.co.id - Wakil Kepala Staf Kepresidenan, M. Qodari, melakukan kunjungan ke Sentra Phala Marta, Sukabumi, yang direncanakan akan menjadi lokasi sementara Sekolah Rakyat. Kunjungan tersebut didampingi Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, Timothy Ivan Triyono, dan Kepala Sekretariat Komnas Disabilitas Kemensos, Herman Koswara.
Dalam kunjungan tersebut, M. Qodari meninjau langsung fasilitas-fasilitas yang disiapkan, mulai dari asrama putra dan putri, ruang kelas laboratorium, masjid, UKS, hingga lapangan olahraga. Ia menyampaikan apresiasi atas kesiapan dan kebersihan area sentra yang dinilai sangat memadai untuk menjadi tempat belajar yang berkualitas bagi anak-anak calon siswa.
“Kita melihat calon Sekolah Rakyat di Sentra Phala Martha. Fasilitasnya sangat baik dan layak ada asrama, masjid, UKS, laboratorium, hingga lapangan olahraga. Saya lihat ini akan jadi lingkungan belajar yang berkualitas untuk anak-anak kita,” ujar Qodari, di Sukabumi, Rabu 4 Juni 2025.
M. Qodari menjelaskan, program Sekolah Rakyat ini menjadi salah satu program “ajaib” yang bisa mengubah nasib keluarga tidak mampu secara drastis. Ia menekankan bahwa melalui program ini, anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya yang berada di desil 1 (kelompok termiskin), akan mendapat kesempatan belajar yang layak dan setara dengan anak-anak dari keluarga mapan.
“Anak-anak yang tadinya jangankan sekolah, makan pun sulit, di sini sudah tidak pusing lagi. Sekolah gratis, seragam disiapkan, sepatu, laptop, makan, semuanya disediakan. Ini adalah program yang luar biasa. Bapaknya desil 1, anak-anak ini bisa naik jadi desil 10,” tegasnya.
Lebih jauh, M. Qodari menuturkan bahwa program ini dirancang untuk memutus transmisi kemiskinan antar generasi. Ia mencontohkan bahwa sebagian besar orang tua calon siswa hanya tamat SD, yang berimplikasi pada keterbatasan ekonomi dan pendidikan anak-anaknya. Dengan hadirnya Sekolah Rakyat, diharapkan generasi berikutnya tidak lagi terjebak dalam lingkaran yang sama.
“Kita harapkan anak-anak ini tidak akan mengalami atau mengulangi situasi yang sama. Kalau anaknya lulus SMP, lanjut SMA, bahkan lebih jauh, saat diskusi dengan Pak Sekjen Kemensos ada pertimbangan untuk kita siapkan kerjasama dengan universitas dan beasiswa LPDP. Jadi, anak-anak ini, yang tadinya ibaratnya gelap, sekarang bisa punya harapan untuk sekolah sampai ke luar negeri,” katanya.
Program Sekolah Rakyat ini, jelasnya, tidak hanya didukung Kementerian Sosial sebagai pelaksana utama, tetapi juga melibatkan kementerian dan lembaga terkait lainnya.
“Ini adalah salah satu program kebijakan publik paling revolusioner. Dalam satu jentikan kebijakan, kita ubah nasib seseorang. Dan program ini dikerjakan secara kolaboratif oleh banyak kementerian dan lembaga, termasuk KSP, Kemensos, Kementerian PU, Kemendikdasmen, dan Kemenag,” ungkap Qodari.
Dalam kesempatan tersebut, Qodari juga menegaskan pentingnya ketepatan sasaran. Anak-anak yang diprioritaskan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan, agar peluang transformasi nasib ini tidak sia-sia. Data anak-anak calon siswa diseleksi ketat, diverifikasi oleh pendamping Program Keluarga Harapan PKH dan Kemensos.
“Kita semua di sini punya satu tujuan, memutus mata rantai kemiskinan dan mengubah nasib anak-anak Indonesia. Dari yang gelap, menjadi seterang matahari Sukabumi,” jelasnya.
Bagi Qodari, program Sekolah Rakyat bukan sekadar angka dalam laporan atau kerja birokrasi semata, tetapi adalah perjuangan yang menyentuh akar kemanusiaan dan keadilan sosial.
“Program ini beyond numbers, beyond work. Ada 10.000 anak dalam gelombang pertama yang nasibnya akan berubah. Ini bukan hanya soal angka, ini soal harapan dan keadilan sosial. Dan setiap orang yang terlibat di dalamnya, ikut serta dalam kerja besar menghapus tradisi kemiskinan,” pungkas Qodari.