fin.co.id - Petruk nama itu sudah seperti mantra bagi penikmat seni pertunjukan Bali. Selama lebih dari 50 tahun, lelaki kelahiran Bangli, 1 September 1949 ini menghidupkan panggung Drama Gong dengan kelucuan khasnya. Namun, kabar mengejutkan datang.
Petruk mungkin tak akan tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
Keputusan Pahit dari Balik Layar
Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas, kelompok tempat Petruk bergabung, memutuskan untuk tidak melibatkannya dalam pementasan tahun ini.
Alasannya? Evaluasi internal menyebutkan bahwa penampilan tahun sebelumnya dinilai melanggar norma kesopanan, meski tim kurator sudah mengingatkan.
"Dialog-dialog yang tidak sepatutnya masih muncul, padahal kami sudah meminta agar hal itu dihindari," begitu penjelasan dari pihak yayasan.
Dengan banyaknya pejabat yang akan hadir, keputusan untuk mengecualikan Petruk pun diambil.
Drama Gong Tanpa Tawa Khas Petruk
Kehilangan Petruk bukan sekadar kehilangan seorang pemain. Ia adalah jiwa dari komedi satir dalam Drama Gong, yang kerap menyelipkan kritik sosial lewat candaannya.
Tanpa kehadirannya, pertanyaan besar mengemuka:
Akankah penonton kehilangan daya tarik utama?
Bisakah generasi baru menggantikan karisma Petruk?
Meski keputusan ini diambil untuk menjaga reputasi pagelaran, publik mungkin masih merindukan guyonan khas Petruk yang selalu berhasil mengocok perut sekaligus menyentil nalar.