Indonesia Jajaki Pendanaan Strategis dengan AS untuk Perkuat Rantai Pasok Mineral dan Energi

news.fin.co.id - 26/07/2025, 19:14 WIB

Indonesia Jajaki Pendanaan Strategis dengan AS untuk Perkuat Rantai Pasok Mineral dan Energi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto,

fin.co.id - Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengelola Investasi Danantara, tengah menjajaki peluang kolaborasi dengan lembaga keuangan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat (AS), yaitu U.S. International Development Finance Corporation (DFC). Fokus kerja sama ini diarahkan pada pembiayaan di sektor mineral kritis dan energi sebagai langkah strategis memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem investasi nasional pada sektor-sektor utama seperti energi dan sumber daya alam.

“Sudah ada pembicaraan antara Danantara dan DFC untuk pembiayaan investasi di sektor mineral kritis. Indonesia terbuka terhadap investasi dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat,” kata Airlangga dalam konferensi pers Joint Statement Indonesia-AS di Jakarta, dikutip pada Sabtu, 26 Juli 2025.

Pendekatan Diplomatik dalam Kerja Sama Investasi

Langkah konkret kolaborasi ini diawali dari pertemuan antara CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dengan Chief of Staff and Head of Investments DFC, Conor Coleman, pada 14 Mei 2025 di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Washington D.C.

Pertemuan tersebut membahas potensi pembiayaan terhadap proyek strategis nasional, terutama terkait transisi energi dan digitalisasi. DFC menyatakan ketertarikannya pada pendanaan inovatif dan berkelanjutan yang berkontribusi langsung pada pembangunan.

“Kami melihat Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi hijau dan digital,” ujar Conor Coleman. “Kemitraan yang kuat akan membuka ruang lebih luas bagi skema pembiayaan yang inovatif.”

Sebelumnya, pada 5 Mei 2025, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, juga telah melakukan pembicaraan strategis dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan mantan Menkeu AS, Steven Mnuchin, dalam forum Milken Institute Global Conference di Los Angeles. Fokus pembahasan meliputi ketahanan energi, pengembangan sektor energi dari hulu ke hilir, serta infrastruktur digital.

Indonesia dalam Peta Global Mineral Kritis

Airlangga menekankan bahwa kerja sama dengan AS ini sejalan dengan semangat keterbukaan Indonesia terhadap mitra global. Ia mencontohkan kerja sama yang sudah terjalin dengan Uni Eropa melalui perusahaan Prancis, Eramet, serta kemitraan yang telah lama terbangun dengan Freeport dari AS.

“Seperti Eramet di Eropa, dan Freeport di Amerika, Indonesia memberi akses pada mitra global dalam kerangka yang menguntungkan kedua belah pihak,” jelasnya.

Dengan kekayaan sumber daya seperti nikel, tembaga, dan logam tanah jarang (rare earth), Indonesia berpotensi menempati posisi strategis dalam rantai pasok global, terutama untuk sektor kendaraan listrik, produksi baterai, dan energi terbarukan.

Komitmen Lewat Pernyataan Bersama

Sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat akan segera mengumumkan pernyataan bersama (Joint Statement) yang merangkum hasil negosiasi terkini. Isi pernyataan tersebut mencakup pengurangan tarif impor hingga 19 persen serta penyelesaian hambatan non-tarif seperti perizinan dan ketentuan kandungan lokal.

Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menuturkan bahwa pernyataan resmi itu sudah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Joint statement ini menjadi bukti konkret komitmen kedua negara. Nantinya akan diumumkan ke publik agar isi kesepakatannya tersampaikan secara utuh dan transparan,” ujarnya.

(Bianca Khairunnisa)

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID